Tampilkan postingan dengan label gajah mada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gajah mada. Tampilkan semua postingan

Menelusuri jejak-jejak Mahapatih Gajah Mada

Bunga MajapahitSampai dengan keruntuhan kerajaan Majapahit, tidak ada negarawan yang begitu terkenal, selain Gajah Mada. Tokoh Majapahit tersebut tetap layak untuk diperbincangkan. Mahapatih Gajah Mada ketenarannya melampaui para penguasa Majapahit yang menjadi tumpuan pengabdiannya, nama Gajah Mada jelas lebih populer dari pada raja Jayanagara (1309—1328 M), Ratu Tribhuwanottunggadewi Jayawisnuwarddhani (1328—1351 M), dan bahkan raja keempat Sri Rajasanagara/Hayam Wuruk (1351—1389 M) sendiri. 

Meskipun demikian masih banyak kabut gelap yang menutupi kehidupan tokoh kontroversial tersebut, contohnya saja adalah dua babakan penting dalam kehidupannya yang belum terungkap, yaitu (a) dari mana asal-usulnya, dan (b) menghilangnya Gajah Mada dari sejarah Majapahit.

Dalam kajiannya yang berjudul Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit (1983), Slamet Mulyana dengan tegas menyatakan hal yang berikut ini :
“Prasasti-prasasti yang dikeluarkan pada zaman Majapahit ada di antaranya yang menyebut nama Gajah Mada (baca : Mpu Mada) dan menyinggung jasa-jasanya selama memangku jabatan Patih Hamangkubhumi. Namun tidak pernah dijumpai pernyataan tentang asal-usulnya. Yang pasti ialah, bahwa Gajah Mada bukan orang bangsawan, keturunan salah seorang raja negara bawahan; gelar yang disandangnya bukan "dyah" melainkan "mpu". Ini berarti menurut alurannya Gajah Mada adalah keturunan orang kebanyakan“ (1983: 172—2).
Demikian Slamet Mulyana telah menjatuhkan sebuah vonis yang telak kepada Gajah Mada bahkan dikatakan bahwa ia bukanlah dari keturunan bangsawan. Begitupun sumber-sumber dari Bali (babad Gajah Maddha) menyatakan bahwa Gajah Mada dilahirkan secara mitos, ia keluar dari buah kelapa yang terbelah dan dipandang sebagai keturunan Narayana (Wisnu) (Yamin 1977: 13). 

Apakah benar asal-usul Gajah Mada begitu sulitnya untuk ditelusuri ? Rupanya tidaklah demikian adanya, sebab bilamana kita telusuri secara lebih teliti, terdapat data-data arkeologis dengan berbagai sokongan sumber tertulis maupun prasasti yang mampu menjelaskan siapa jati-diri tokoh Gajah Mada yang legendaris tersebut.

Dalam masa Jawa Kuno (masa kerajaan Singhasari-Majapahit) sebuah candi atau caitya bagi pemuliaan seorang tokoh (pendharmaan),  selalu dibangun oleh kaum kerabat atau keturunan langsung  tokoh tersebut. Banyak candi pendharmaan yang didirikan oleh anak-cucu sang tokoh, misalnya Candi Jago (Jajaghu) yang pernah dibangun dalam masa Singhasari untuk raja Wisnu-warddhana diperbaiki kembali oleh Mpu Aditya (Adityawarman) dalam masa Majapahit pada kisaran tahun 1265 Saka/1343 M, Candi Sumberjati bagi Nararya Sanggramawijaya dibangun pada sekitar tahun 1321 M dalam masa pemerintahan Jayanagara, dan Candi Bhayalango pendharmaan bagi Rajapatni Gayatri dibangun oleh cucunya, yaitu Sri Rajasanagara (Hayam Wuruk) di sekitar tahun 1362 M.

Demikianlah berdasarkan data-data tersebut di atas, kitanya dapat ditafsirkan bahwa sangat mungkin Gajah Mada masih keturunan dari raja Kertanagara ! Setidaknya Gajah Mada masih mempunyai hubungan darah dengan Kertanagara. Oleh karena itu, Gajah Mada mempunyai perhatian khusus kepada raja Singhasari itu yang memang leluhurnya. Gajah Mada bukan orang asing dalam lingkungan istana ; Gajah Mada masih kerabat dan akrab dengan kehidupan istana. 

Gajah Mada mungkin sekali anak seorang pahlawan pengiring Nararya Sanggramawijaya, yaitu Gajah Pagon. Interpretasi selanjutnya adalah bahwa  Gajah Pagon sangat mungkin anak dari salah seorang selir raja Kertanagara, bukan anak permaisuri. Adapun keempat istri Nararya Sanggramawijaya adalah putri-putri Kertanagara dari permaisurinya. Perhatikan pernyataan Nararya Sanggramawijaya dalam kitab Pararaton yang sangat mengkhawatirkan keadaan Gajah Pagon tersebut, dia terluka dan dititipkan kepada kepala Desa Pandakan sebagai berikut :
"Sira Gajah Pagon tan kawasa lumaku; andika nira Raden Wijaya: “Buyuting Pandakan, ingsun atuwawa wong sawiji, Gajah Pagon tan bisa lumaku didine ring sira” (Brandes, 1920: 27; Padmapuspita, 1966: 29).
(Gajah Pagon tidak dapat berjalan, berkatalah Raden Wijaya: ”Kepala Desa Pandakan saya titip seseorang, Gajah Pagon tidak dapat berjalan, lindungilah olehmu”).

Dalam hal pengiring Nararya Sanggramawijaya yang terluka atau tewas,  Pararaton hanya menyebutkan secara khusus tokoh Gajah Pagon tersebut, artinya penulis Pararaton begitu mengistimewakan tokoh Gajah Pagon ini. Jika ia bukan siapa-siapa, tidak mungkin Nararya Sanggramawijaya menitipkan dengan sungguh-sungguh Gajah Pagon yang terluka itu kepada kepala Desa Pandakan. Babakan selanjutnya adalah bahwa sangat mungkin Gajah Pagon selamat, kemudian menikah dengan putri kepala Desa Pandakan dan akhirnya mempunyai anak Gajah Mada yang mengabdi kepada istana Majapahit. Jadi Gajah Mada dengan Tribhuwanottunggadewī mungkin saja mempunyai eyang yang sama, mereka adalah cucu-cucu Kertanagara sang Bhattara Śiva-Buddha. Perbedaan terletak pada garis keturunan, Gajah Mada cucu dari istri selir Kertanagara; sedangkan Tribhuwana adalah cucu dari istri  resmi Kertanagara, sang permaisurinya, hanya saja nama permaisuri Kertanagara ini belum dapat diketahui, dan sangat mungkin telah meninggal saat penyerbuan oleh kerajaan Gelang-Gelang (Jayakatwang).

Selanjutnya dapatlah dipahami mengapa Gajah Mada sangat menghormati Raja Kertanagara, karena raja itu  tiada lain adalah eyangnya sendiri, hanya keturunannya sajalah yang dengan senang hati membangun caitya bagi diri sang raja. Kertanagara mungkin sangat menginspirasi Gajah Mada, terutama dalam hal pengembangan konsepsi Dwipantara mandala yang mendorong Gajah Mada mencetuskan sumpah Palapanya sehingga muncullah konsep Nusantara. Bagi Gajah Mada, tokoh Kertanagara adalah raja besar yang patut dijadikan teladan, layak mendapat pemujaan dan pemuliaan walaupun dia telah tiada. Demi untuk mengenang kebesaran leluhurnya lalu didirikanlah sebuah caitya atau Candi yang dikenal dengan Candi Singhasari sekarang ini.

Bunga Majapahit
Candi Singhasari, pendharmaan untuk Raja Kertanegara

Kajian atau artikel ini berupaya untuk melengkapi data-data tentang tokoh Gajah Mada dengan bertumpu kepada data sezaman (prasasti) yang sebenarnya telah selesai digarap oleh para ahli, namun belum dikaji atau dibicarakan secara lebih lanjut lagi. Jadi data itu telah tersedia, hanya saja terabaikan dan masih harus mendapat penelitian lanjutan secara lebih cermat dan seksama. Beberapa aspek kajian tentang Gajah Mada berdasarkan tinjauan terhadap beberapa data yang telah lama ada, yaitu:

1. Pemuliaan Gunung Penanggungan : "Putera Pawitra"
Terdapat suatu hal yang istimewa pada sebuah batu prasasti yang dikeluarkan oleh Gajah Mada, prasasti itu dikenal dengan nama Prasasti Gajah Mada yang bertarikh 1273 Śaka/1351 M (Nakada 1982: 120—1), pada tahun yang sama itu pula Hayam Wuruk mulai memerintah kerajaan Majapahit dengan gelar Sri Rajasanagara. Batu prasasti telah dibentuk terlebih dahulu, pipih diratakan, puncaknya berbentuk busur kurawal yang dilengkapi dua tonjolan kecil di kanan-kiri, tonjolan utamanya di tengah. Jadi seakan-akan menggambarkan rangkaian pegunungan, terdapat gunung tertinggi di tengah dan diapit oleh dua puncak lainnya yang lebih rendah di kanan-kirinya.

Bunga Majapahit
Prasasti Gajah Mada (Singhasari) 1351 M

Begitupun di bagian dasar batu prasasti digambarkan secara jelas dalam bentuk relief rendah adanya 3 gunung, gunung yang tengah lebih tinggi diapit oleh dua gunung lain di kanan-kirinya. Bentuk-bentuk hiasan pada batu prasasti (Gupala prasasti) ditemukan juga pada prasasti lainnya, misalnya di bagian puncak prasasti-prasasti Airlangga dihias dengan relief burung Garuda di dalam lingkaran, sehingga sering dinamakan tanda Garudamukha, pada prasasti raja-raja Kadiri, pada bagian puncaknya kerapkali dijumpai relief yang menggambarkan permata yang bersinar dalam bingkai lingkaran, atau yang menggambarkan bentuk lainnya yang belum dapat diidentifikasikan.

Mengenai hiasan rangkaian gunung pada batu prasasti Gajah Mada ini –bahkan sampai digambarkan 2 kali di bagian puncak batu prasasti dan bawahnya– cukup menarik untuk diperbincangkan dan dikaji secara lebih serius. Tentunya bentuk tersebut bukan semata-mata sebagai hiasan, melainkan pasti memiliki sebuah makna lain. Dalam kebudayaan Jawa Kuno terutama ketika pusat kekuasaan telah berada di Jawa bagian Timur, terdapat gunung yang senantiasa dihormati karena bentuknya yang sangat mirip Gunung Mahāmeru. Gunung itu adalah Penanggungan yang nama kunonya disebut Pawitra, ketinggiannya hanya 1635 m dpl, namun karena bentuknya yang istimewa (terdapat puluhan candi-candi kecil di bagian lereng-lerengnya), maka berkembanglah mistos yang diuraikan dalam kitab Tantu Panggelaran (paruh pertama abad ke-16), bahwa Pawitra adalah puncak Mahāmeru yang telah dipindahkan ke Jawadwipa, sedangkan tubuhnya menjadi Gunung Sumeru (Mahameru) yang merupakan sebuah gunung tertinggi di pulau Jawa.

Dapat kiranya ditafsirkan bahwa rangkaian gunung yang digambarkan dalam Prasasti Gajah Mada tersebut sebenarnya hendak menggambarkan puncak Mahāmeru di Jawa alias Pawitra yang dikelilingi oleh 4 puncak bukit lain di sekitarnya, dan 4 lainnya pada lingkaran yang agak jauh dari puncak Pawitra. Dengan demikian Pawitra di kelilingi oleh 4 + 4 = 8 puncak bukit  di sekelilingnya, keadaan demikian sama dengan mitologi Gunung Mahāmeru, gunung tertinggi di dunia yang puncaknya tempat persemayaman dewa. Dengan demikian melalui penggambaran Gunung Pawitra pada prasasti batu yang dikeluarkannya itu, Gajah Mada sebenarnya hendak menghormati atau memuliakan Gunung Penanggungan tersebut.

Mengapa Gunung Penanggungan yang digambarkan dalam prasasti yang dikeluarkan oleh Gajah Mada tersebut ? Mungkin selain mengungkapkan simbol Mahāmeru sebagai persemayaman para dewa, tempat persemayaman leluhurnya, tetapi juga sangat mungkin bermaksud mengungkapkan rasa kagum terhadap gunung tersebut, sebab di salah satu sisi lerengnya dirinya dahulu dilahirkan, dia akan lebih bangga apabila mengaku (disebut) "Putera Pawitra", puteranya Gunung Mahāmeru. Mengenai lereng sisi mana tepatnya, maka tentu saja perlu penelusuran terhadap sumber tertulis secara cermat, menyusuri adanya tinggalan-tinggalan arkeologis, dan mendata kembali berbagai legenda yang berkenaan dengan Mahāpatih Gajah Mada di wilayah sekitar Gunung Penanggungan ini. Dengan demikian langkah selanjutnya adalah mencoba untuk menafsirkan lokasi tepat tempat kelahiran Gajah Mada tersebut.

2. Madakaripura dan bangunan suci yang didirikan atas perintah Gajah Mada
Dalam kakawin Nāgarakŗtāgama dinyatakan bahwa Hayam Wuruk sempat singgah di Madakaripura sekembalinya dari perjalanan ke Lumajang-Bondowoso pada sekitar tahun 1359 M. Nāgarakŗtāgama mencatat sebagai berikut :
“wwantěn dharmmā kasogatan prakāsite madakaripura kastaweng langö, simānugraha bhûpati sang apatih gajamada racananyan ûttama, yekānung dinunung nareśwara pasanggrahanira piněněd rinûpakāandondok mahawan rikang trasungay andyus i capahan atirthaśewana“ (Nag.19:2)
Tersebut dukuh Kasogatan bernama Madakaripura, dengan pemandangan indah, tanahnya anugerah sri Baginda kepada patihnya, Gajah Mada, teratur dengan sangat baik. Di situlah sang raja menempati pesanggrahan yang terhias dengan indah, berjalan melalui Trasungay, ia melakukan pujabhakti di petirtaan suci di Capahan. (Sidomulyo 2007: 42)

Apabila memperhatikan tempat-tempat yang dilalui oleh rombongan Hayam Wuruk sebelum dan setelah mencapai Madakaripura, maka tanah sima bagi Gajah Mada tersebut bukanlah di wilayah Selatan Probolinggo sebagaimana yang dipercaya hingga saat sekarang, melainkan lebih tepat di wilayah Selatan Pasuruan. Jadi air terjun di Probolinggo Selatan yang airnya jatuh tipis-tipis seperti tirai tersebut bukanlah Madakaripura seperti  yang dimaksudkan dalam Nāgarakŗtāgama nya Mpu Prapanca. Terlalu jauh apabila menempatkan Madakaripura di Selatan Probolinggo, karena Prapanca menyatakan bahwa Hayam Wuruk berkunjung ke Madakaripura setelah melalui beberapa daerah yang semuanya berlokasi di bagian Selatan Pasuruan.

Madakaripura jelas merupakan tempat suci yang bernapaskan agama Buddha Mahayana, kata kasogatan berasal dari bentukan kata Ka+tathagata+an atau tempat untuk memuja Tathagata atau Panca Tathagata yang terdiri dari Amoghasiddhi, Aksobhya, Ratnasambhawa, Amitabha, dan Wairocana. Berdasarkan berita Nāgarakŗtāgama tersebut dapat diketahui bahwa Gajah Mada juga melakukan laku tapa sebagai pemeluk Buddha. Mengenai lokasi Madakaripura di Selatan Pasuruan ini agaknya tidak perlu diragukan lagi, namun apakah sisa-sisa sima swatantra bagi Gajah Mada tersebut masih dapat dijumpai sekarang ? Mengikut pendapat Hadi Sidomulyo seorang peneliti lapangan berkebangsaan Inggris yang nama aslinya Nigel Bullough (2007: 43–45), terdapat 3 kemungkinan lokasi Madakaripura di Selatan Pasuruan ini, yaitu:

Dusun Bandaran, Kecamatan Winongan berdekatan dengan sumber air Banyubiru. Sampai sekarang daerah tersebut tetap dihubungkan dengan kisah legendaris mpu Gembolo Geni, pandai besi keturunan Majapahit sebelum Pasuruan ditaklukkan oleh bala tentara Demak.

Desa Kebon Candi, Kecamatan Gondang Wetan, 5 km dari Banyubiru. Di Kebon Candi pernah dijumpai beberapa arca yang dihancurkan dan sebagian dipendam kembali oleh penduduk, sampai sekarang masih disimpan lapik arca yang dipermukaannya masih terlihat posisi kaki arca bersila padmasana, sikap yang biasa diperlihatkan arca-arca Buddha.

Dusun Dadapan, Desa Grogol, Kecamatan Gondang Wetan juga mempunyai peninggalan arkeologis yang mengesankan. Peninggalan yang terpadat terletak di antara dusun Sendang, Bale Dono, dan Krandon Kidul justru lebih menarik untuk dikaji lebih lanjut.

Demikian temuan Nigel Bullough tentang kemungkinan lokasi dari Madakaripura, hal yang paling menarik adalah adanya "lokasi kunci" yang sekarang menjadi tempat kunjungan wisata domestik, yaitu sumber air Banyubiru. Air di sumber tersebut sangat berlimpah dan tidak pernah kering. Sampai sekarang masih disimpan berbagai artefak kuno dari Banyubiru yang sangat mungkin berhubungan dengan jejak Madakaripura di masa silam.

Jika Madakaripura dinyatakan sebagai biara Buddha, maka uraian prasasti yang dikeluarkan oleh Gajah Mada tahun 1351 M, tidak memperlihatkan secara jelas napas keagamaannya. Di dalam prasasti tersebut diberitakan adanya pembangunan caitya bagi para pendeta Siwa-Buddha yang gugur bersama raja Krtanagara pada tahun 1291 M.

Caitya biasanya dikenal dalam agama Buddha sebagai bangunan peringatan untuk tokoh yang telah mangkat, dapat juga bangunan untuk menyimpan relik dari orang-orang yang terkenal yang telah meninggal. Caitya juga dapat berarti bentuk stupa kecil yang dipuja di suatu tempat (Liebert 1976: 51). Dengan demikian caitya yang dibangun oleh Gajah Mada pada tahun 1351 dapat berupa bangunan untuk memuliakan tokoh yang telah meninggal. Dalam zaman Majapahit bangunan suci demikian lazim dinamakan dengan candi pendharmaan.

Prasasti Gajah Mada ditemukan di halaman percandian Singasari, Malang yang aslinya dahulu merupakan kompleks luas dengan beberapa bangunan yang bercorak Hindu dan Buddha. Keadaan dewasa ini halaman percandian tersebut telah dijadikan jalan dan dipenuhi oleh perumahan penduduk, bangunan satu-satunya yang tersisa hanyalah Candi Singasari, sedangkan bangunan lain yang dahulu masih terlihat sisa pondasinya (awal abad ke-20)  sudah tidak dikenali lagi keberadaannya.

Dalam perspektif arkeologi Hindu-Buddha di Jawa, candi itu mempunyai arsitektur yang sungguh istimewa. Bilik-bilik tempat meletakkan arca dewa berada di bagian kaki candi, tubuh candi berada di tengah menjulang tinggi menyatu dengan atapnya dalam bentuk prasadha. Di sekitarnya terdapat 4 atap prasadha lainnya yang merupakan bagian atas dari bilik antarala/penampil (barat), bilik arca Durga (utara), bilik arca Ganesa (timur), dan bilik arca Agastya (selatan). Dengan demikian terdapat 1 atap tengah yang tinggi dikelilingi oleh 4 atap yang lebih rendah di keempat arah mata angin. Dengan segera dapat ditafsirkan bahwa bentuk atap bangunan Candi Singasari mirip dengan gambaran Gunung Mahāmeru tempat persemayaman para dewa.

Ditafsirkan bahwa di Candi Singasari sejatinya  dilengkapi juga arca-arca Buddha Tathagata yang ditempatkan di relung dangkal di di keempat sisi tubuh candi, jadi posisi arca-arca Buddha lebih tinggi letaknya dari arca-arca dewata Hindu yang terletak dalam bilik-bilik di kaki candi, namun arca-arca Buddha itu sekarang telah tiada lagi (Oey-Blom 1954: 14). Berdasarkan adanya arca-arca yang berasal dari dua agama berbeda itu dapat diketahui bahwa sebenarnya bangunan Candi Singasari bernapaskan Siwa-Buddha, setara jika dijadikan caitya bagi Krtanagara yang juga dijuluki Bhatara Śiwa-Buddha.

Demikianlah terdapat tafsiran lebih lanjut bahwa Gajah Mada telah menciptakan bentuk arsitektur bangunan suci Śiwa-Buddha yang tidak dikenal dalam masa sebelumnya. Bangunan itu berbentuk adanya struktur tengah yang lebih tinggi dikelilingi oleh 4 struktur lainnya yang lebih rendah, untuk mudahnya disebut corak arsitektur Mahāmeru. Dari era Majapahit ternyata dijumpai pula bangunan suci lain dengan corak arsitektur Mahāmeru, yaitu Candi Tikus di Trowulan dan Candi Kepung di Kediri. Kedua bangunan tersebut merupakan petirthaan yang agaknya dibuat sezaman dengan masa pembangunan Candi Singasari.

Candi Tikus merupakan kolam air yang dibuat dengan struktur bata,  di tengah kolam terdapat bentuk batur lebar, di tengah batur tersebut terdapat menara-menara, menara yang paling tinggi berada di tengah dan menara lainnya yang lebih rendah berada di sekitarnya. Dahulu dari dinding batur dan dinding kolam terdapat deretan pancuran air (jaladwara) yang senantiasa mengalirkan airnya untuk keperluan ritual keagamaan, namun sekarang petirthaan Candi Tikus tidak dapat lagi berfungsi seperti dahulu, walaupun berhasil ditampakkan kembali.

Sama dengan Candi Tikus, Candi Kepung juga merupakan bangunan petirthaan, namun keadaannya lebih parah lagi. Candi Kepung dibuat dari susunan bata dan telah terurug tanah pada kedalaman sekitar 3 m, penelitian pernah dilakukan dan berhasil ditampakkan kembali, bentuknya sangat mirip dengan Candi Tikus hanya saja dalam ukuran yang lebih kecil. Bangunan Candi Kepung mempunyai batur yang di tengahnya berdiri menara dan dikelilingi oleh 4 menara lain yang lebih rendah di sekitarnya. Pada tubuh menara-menara rendah dan juga pada dinding batur terdapat deretan jaladwara yang dahulu memancurkan air, jadi memang Candi Kepung merupakan petirthaan. Bersama dengan Candi Singasari dan Tikus, Candi Kepung termasuk ke dalam corak arsitektur Mahameru yang sangat mungkin digubah oleh Gajah Mada yang memang memuliakan Gunung Mahameru yang puncaknya telah dipindah ke Jawa menjadi Pawitra (Gunung Penanggungan).

Peran Gajah Mada Menurut Uraian Prasasti Himad-Walandit (+ 1350 M)
Adalah Prasasti Himad-Walandit yang isinya menguraikan penyelesaian damai atas konflik yang berkembang di antara penduduk Desa Himad dan Walandit yang bertetangga.  Mengutip pendapat J.G.de Casparis, M.Yamin menyatakan bahwa lokasi desa-desa itu sangat mungkin  di lereng Pegunungan Bromo-Tengger di daerah Wonorejo. Nama Walandit telah disebutkan dalam beberapa prasasti dari zaman Pu Sindok antara lain dalam prasasti OJO. XXXIX, XLIII, dan LI. Nama Walandit disebutkan juga dalam prasasti yang berangka tahun 1405 yang menyebutkan adanya pemujaan kepada Gunung Bromo  (Yamin 1962: 86). Prasasti tersebut sangat mungkin dikeluarkan dalam masa pemerintahan Ratu Tribhuwanottunggadewi (1328—1350 M), pada masa itu Gajah Mada telah menjadi Patih di Majapahit dengan julukan Patih Janggala-Panjalu, dua daerah inti kerajaan Majapahit.

Isinya menguraikan bahwa penduduk Desa Walandit mempunyai bukti kuat tentang keswatantraan desanya berdasarkan sekeping prasasti logam dari masa pemerintahan Raja Pu Sindok (abad ke-10 M). Sebaliknya penduduk Himad merasa bahwa Walandit adalah bagian dari wilayah desanya. Duduk Perkaranya adalah rebutan pengelolaan atas darma kabuyutan dan juga pengawasan terhadap petirthaan yang banyak dikunjungi oleh para peziarah. Darma Kabuyutan dan patirthān tersebut berada di wilayah Walandit dan daerah itu telah menjadi swatantra berdasarkan keputusan Pu Sindok sejak ratusan tahun silam, artinya penduduk Walandit berhak atas pemeliharaan bangunan suci, dan juga segala penghasilan dewa diperuntukkan bagi kemajuan dan kemakmuran bangunan suci tersebut.

Atas prakasa Rake Mapatih ring Janggala Kadiri Pu Mada, perselisihan tersebut dapat didamaikan. Tentunya sebagai ksatrya dan pejabat tinggi Majapahit, Gajah Mada harus tetap menghargai keputusan raja pendahulunya yaitu Pu Sindok tentang status Desa Walandit. Adapun penduduk Desa Himad yang mencoba-coba merebut penguasaan darma kabuyutan dan petirthaan di Walandit dapat dihentikan keinginannya dengan bukti prasasti Sindok dan posisi Gajah Mada yang berpihak kepada penduduk Desa Walandit.

Drama perselisihan penduduk Desa Himad-Walandit tersebut agaknya merupakan peristiwa besar dalam masanya, sehingga menyita perhatian Gajah Mada yang merupakan pejabat tinggi yang menguasa daerah inti Majapahit Janggala-Kadiri. Bahkan dalam Prasasti Himad-Walandit terdapat uraian yang merupakan perintah Gajah Mada:
“kune[ng] yan hana thanyang-ruddha, kewalapageha ri kahayuakna sang hyang dharma kabuyutan mangkanatah prawrttyacara mpu rama ri walandit anung sayogya wruhe sama-manana sang hyang dharma, sangsiptanya labdhapageh pgat pramaneriya, n[a]h[a]r[a]wruh ri saniwedya sang hyang dharma kabuyutan man[g]kanat[a]h paksa mpu dapur I himad nimittanyan sor balawan paksa mpu rama ri walandit…”
Terjemahannya lebih kurang:
“Adapun jika ada penduduk desa yang berbuat jahat (merusak), lindungilah keselamatan sang hyang dharma kabuyutan, begitulah tugas dari Rama (kepala desa) Walandit terhadap sang hyang dharma yang selayaknya diketahui. Pendek kata telah diterima dengan kokoh bahwa kekuasaan telah memutuskan berdasarkan pengetahuan dan bukti [bahwa] sang hyang dharma kabuyutan [milik Walandit],  begitulah upaya pihak penduduk Himad telah kalah melawan pihak Rama Walandit…“

Perintah Gajah Mada tersebut jelas merupakan keputusan yang diambil berdasarkan bukti-bukti yang kuat dan harus ditaati oleh mereka yang berselisih. Berdasarkan berita prasasti itu dapat diketahui bahwa terdapat sisi lain dari kehidupan Gajah Mada yang memperhatikan keadaan desa-desa di Majapahit yang selama ini belum diungkapkan. Jadi tindakan Gajah Mada tidak hanya berperan dalam “sejarah nasional Majapahit“,  namun juga terdapat tindakan yang bersifat  “sejarah lokal“  yang masih belum banyak dipelajari hingga kini.

Gajah Mada dalam uraian Prasasti Bendosari (+ 1360 M)
Prasasti Bendosari (Oud-Javaanseche Oorkonden LXXXV) dikeluarkan dalam masa pemerintahan raja Hayam Wuruk, ia berkuasa di puncak kemegahan Majapahit antara tahun 1351—1389 M. Isinya secara umum menguraikan perihal keputusan hukum yang ditetapkan oleh pengadilan dan disaksikan oleh raja beserta para pejabat tingginya, jenis prasasti yang berisikan keputusan hukum itu dinamakan Jayapattra atau Jayasong (Yamin 1962, II: 109). Di antara para pejabat tinggi kerajaan terdapat uraian tentang Gajah mada sebagai berikut:
1.“…rake mapatih pu mada, sakalanitiwŗha
2.sapatisanggrâmikâ, prânaraksaka śrî mahârâja pranalâmratisubaddhaken pangdiri śrî mahârâja
3.ngkěn iśwaraparatiwimba, gumawayakěn hita karmmaning yawadwipamaņdala, muang wisirnnaning prangmu-
4.ke paduka śrî mahârâja…“(Yamin 1962, II: 109—110).
Terjemahannya kurang lebih:
(“…Rake mapatih Pu Mada, [yang] mengetahui seluruh ilmu pemerintahan, menguasai berbagai pertempuran, menjaga jiwa Śrî Mahāraja, menjadi pranala abadi yang menguatkan tegaknya Sri Maharaja [bagaikan] arca Iswara, mendatangkan keuntungan serta kebaikan seluruh wilayah Pulau Jawa, termasuk menghilangkan musuh-musuh[nya] paduka Śrî Mahāraja…“).

Berdasarkan uraian tersebut diperoleh lagi data akurat tentang ketokohan Gajah Mada sebagai orang kuat di Majapahit. Dalam era pemerintahan Rajasanagara, Gajah Mada berada di puncak kariernya, oleh karena itu uraian prasasti Bendosari sangat sarat dengan pujian yang mengagungkan dirinya. Pujian itu berupa:

Gajah Mada menguasai seluruh ilmu pemerintahan, jelas yang dimaksudkan Gajah Mada adalah pejabat tinggi senior di Majapahit pada waktu itu. Ia telah banyak pengalaman di bidang tata negara, menjadi anggota pasukan Bhayangkara, menjadi bekel (kepala) Bhayangkara, menjadi patih Daha, patih Kahuripan, dan akhirnya menjadi Mahapatih Amangkubhumi di Majapahit.

Menguasai berbagai pertempuran, artinya dapat ditafsirkan bahwa Gajah Mada selalu memenangkan setiap pertempuran. Hal itu tidak perlu dibantah lagi sebab berbagai sumber tertulis di Jawa dan luar Jawa juga menyatakan kejayaan Gajah Mada di setiap pertempuran.

Menjaga jiwa Śrî Mahāraja, artinya jelas senantiasa menjaga keselamatan dari rajanya saat itu ialah Rajasanagara.

Hal yang menarik adalah bahwa Gajah Mada tetap menempatkan dirinya hanya sebagai pranala (lapik/alas) bagi arca Iśwara yang merupakan penjelmaan raja. Gajah Mada senantiasa menjadi alas abadi bagi sang raja. Diumpakan jika raja adalah arca Iśwaranya (Śiwa Mahādewa), maka Gajah Mada menjadi pranala/yoni/lapik tempat berdirinya arca tersebut.

Apa yang dilakukan oleh Gajah Mada mendatangkan manfaat bagi seluruh Pulau Jawa, merupakan pernyataan yang menarik untuk dibincangkan lebih lanjut. Prasasti Bendosari dikeluarkan sekitar tahun 1360 M, artinya setelah terjadinya Pasunda-Bubat (1357 M). Menurut prasasti Bendosari,  Gajah Mada mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi Pulau Jawa, pernyataan ini mungkin hanya bersifat simbolis, sebab Jawa bagian Barat tidak pernah berada dalam kuasa Majapahit. Jadi yang dimaksudkan karmmaning yawadwipamaņdala bukanlah “kebajikan wilayah Pulau Jawa“,  melainkan hanya wilayah yang penduduknya menuturkan bahasa Jawa Kuno, yaitu wilayah Jawa bagian Timur dan Tengah.

Menghilangkan musuh-musuh Rajasanagara, hal itu jelas harus dilakukan oleh Gajah Mada hingga akhir hayatnya beberapa tahun kemudian setelah terbitnya Prasasti Bendosari.

Pengabdian untuk Mencapai Moksa 
Gajah Mada mengabdi kepada 3 orang penguasa Majapahit, baik sumber prasasti atau pun juga karya sastra menyatakan hal tersebut. Tentu saja hal itu merupakan pekerjaan yang luar biasa, sebab mengabdi kepada negara selama kurang lebih 45 tahun. Pengabdian itu dimulai dalam masa pemerintahan raja Jayanagara (1309—1328 M), menurut kitab Pararaton dalam tahun 1240 S/1318 M terjadi pemberontakan Ra Semi yang berhasil dibunuh di bawah pohon randu. Setahun kemudian, berarti dalam tahun 1319 terjadi pemberontakan Ra Kuti yang sangat membahayakan keberlangsungan Majapahit, sebab raja Jayanagara mengungsi ke Desa Bedander dengan kawalan pasukan Bhayangkara dipimpin bekel Gajah Mada (Hardjowardojo 1965: 49). Nama Gajah Mada mulai tampil dalam masa tersebut, jadi sekitar pertengahan era pemerintahan Jayanagara.

Gajah Mada selanjutnya mengabdi kepada pengganti Jayanagara, yaitu Ratu Tribhuwanottunggadewî Jayawisnuwarddhanî (1328—1351 M). Suatu pengabdian sepenuhnya, sejak ratu itu naik tahta hingga mengundurkan diri digantikan oleh puteranya, Hayam Wuruk. Peristiwa penting yang patut dicatat dalam masa pemerintahan Tribhuwanottunggadewi adalah penaklukkan Bali di bawah kuasa Majapahit.

Menyusul pengabdian Gajah Mada kepada Rajasanagara yang mulai naik tahta tahun 1351 M dan meninggal dalam tahun 1389 M. Gajah Mada hanya mendampingi raja terbesar Majapahit tersebut hingga tahun 1364 M, menurut uraian Nāgarakŗtāgama dalam tahun 1363  Rajasanagara mengadakan perjalanan ke Simping (Candi Sumberjati) tempat pendharmaan Krtarajasa Jayawarddhana (Raden Wijaya) di Blitar, ia mendengar Gajah Mada sakit (Nag.70:3). Sekembalinya dari Simping dalam tahun 1364 M Gajah Mada wafat, dan diputuskan tidak digantikan oleh siapapun, melainkan tugas-tugas Gajah Mada  dibagikan kepada 4 orang menteri (Nag.71: 1-3).

Pengabdian kepada 3 orang penguasa Majapahit tersebut dapat disetarakan dengan perjalanan seseorang untuk mencapai moksa (kematian bersatu dengan dewata). Dalam ajaran Hindu-Buddha  dikenal adanya 3 tingkatan dunia yang dinamakan Triloka, terdiri dari Bhurloka (dunia manusia masih penuh hasrat), Bhuwarloka (dunia manusia yang telah berhasil menekan hasrat/nafsu), dan Swarloka (dunia dewata, dunia manusia bersatu dengan dewata) (Soekmono 1983: 87). Apabila pengabdian Gajah Mada kepada 3 orang penguasa Majapahit tersebut disetarakan dengan Triloka, maka diperoleh tafsiran yang menarik sebagai berikut:

Pengabdian kepada Raja Jayanagara dari tahun 1319 sampai 1328, Jayanagara sendiri memerintah antara tahun 1309—1328. Bagi Gajah Mada pengabdian kepada Jayanagara merupakan tingkat pengabdian Bhurloka yang merupakan langkah awal pengabdiannya di masa muda, masa yang masih penuh hasrat dan keinginan untuk berjaya.

Pengabdian kepada Ratu Tribhuwanottunggadewi (1328—1351 M) merupakan tingkat pengabdian yang lebih tinggi, yaitu tataran Bhuwarloka. Dalam masa ini menurut berbagai sumber tertulis Gajah Mada kerapkali menerapkan kecerdikan dan pengetahuannya, daripada menggunakan kekuatan fisiknya, misalnya pada waktu penaklukkan Bali dan deklarasi Sumpah Palapanya.

Pengabdiannya dalam masa Rajasanagara dimulai tahun 1351 dan berakhir dalam tahun 1364 pada waktu Gajah Mada meninggal, merupakan pengabdian pada tingkatan tertinggi pada tataran Swarloka. Pada periode tersebut Gajah Mada sudah merasa puas karena berhasil mengantarkan dan menyaksikan Majapahit di puncak kejayaannya. Walaupun terdapat tregedi Pasunda-Bubat (1357 M), namun tindak pengabdian Gajah Mada kepada Majapahit dan kepatuhannya kepada  sang raja sesembahannya tidaklah pudar. Gajah Mada mangkat dengan sempurna masuk ke alam Swarloka bersatu dengan dewata, karena Gajah Mada tidak pernah menentang perintah para penguasa yang menjadi tumpuan pujaannya, walaupun terasa pahit dan mungkin bertentangan dengan nuraninya.

Demikianlah uraian kami, daripada para peneliti Gajah Mada membayangkan secara fiksi dan berdasarkan angan-angan saja yang tidak berdasarkan bukti, lebih baik membaca dan mempelajari ulang berbagai sumber tertulis (prasasti atau karya sastra sezaman), serta menelisik bukti arkeologis yang berkenaan dengan Gajah Mada. Dengan cara itu pasti dihasilkan interpretasi baru yang bukan angan-angan, melainkan didasarkan pada bukti-bukti otentik sezaman.


Kepustakaan
Liebert, Gosta, 1976. Iconographic Dictionary of The Indian Religions.Studies in South Asian Culture. Edited for The Institute of South Asian Archaeology University of Amsterdam By J.E.van Lohuizen-De Leeuw. Volume V.Leiden: E.J.Brill.

Mulyana, Slamet, 1979. Nagarakrtagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara.

————-, 1983. Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit. Jakarta: Inti Idayu Press.

Munandar, Agus Aris, 2010. Gajah Mada: Biografi Politik. Depok: Komunitas Bambu.

Nakada, Kozo, 1982. An Inventory of The Dated Inscriptions in Java. Tokyo: The Toyo Bunko.

Oey-Blom, J., 1954.“Peninggalan-peninggalan Purbakala di sekitar Malang“, dalam Amerta: Warna Warta Kepurbakalaan 2. Djakarta: Dinas Purbakala Republik Indonesia. Halaman 7—19.

Sidomulyo, Hadi, 2007. Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapanca. Jakarta: Wedatama Widya Sastra, Yayasan Nandiswara, dan Jurusan Pendidikan Sejarah UNESA.

Soekmono, 1983. Candi Borobudur Pusaka Budaya Umat Manusia. Jakarta: Pustaka Jaya.

Yamin, Muhammad, 1962. Tatanegara Madjapahit Jaitu Risalah Sapta Parwa berisi 7 Parwa Hasil Penelitian Ketatanegaraan Indonesia Tentang Dasar dan Bentuk Negara Madjapahit, 1293—1525. Parwa II. Djakarta: Jajasan Prapantja.

 ———, 1977. Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara. Jakarta: Balai Pustaka.