Tampilkan postingan dengan label MAJAPAHIT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MAJAPAHIT. Tampilkan semua postingan

CANDI SUKUH DALAM KACAMATA TANTU PANGGELARAN (1)

BUNGA MAJAPAHIT. Tulisan tentang Candi Sukuh dalam kacamata Tantu Panggelaran ini akan mencoba melakukan kajian terhadap Candi Sukuh dengan mempergunakan referensi Kitab Tantu Panggelaran yang lebih banyak berkisah tentang awal mula terjadinya pulau Jawa, awal mula penciptaan manusia dan peradaban yang ada di pulau Jawa. Artikel ini dituliskan berdasarkan artikel sahabat blogger tentang Candi Sukuh, candi yang tertua di Pulau Jawa.

Analisis Kitab Tantu Panggelaran.
Kitab Tantu Panggelaran adalah sebuah teks prosa yang menceritakan tentang kisah penciptaan manusia di pulau Jawa dengan segala aturan yang harus ditaati manusia (manusia Jawa). Tantu Panggelaran ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan pada zaman Majapahit. Suntingan teks yang sangat penting telah terbit pada tahun 1924 di Leiden oleh Dr. Th. Pigeaud.

Kitab Tantu Panggelaran ini berisi tentang etiologi alam semesta. Tantu Panggelaran ditulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan etiologis, misalnya, mengapa ada gempa bumi, mengapa ada gerhana matahari, mengapa ada gunung-gunung yang tersebar di pulau Jawa, mengapa ada manusia di pulau Jawa, mengapa ada biji hijau, hitam, putih, tetapi tidak ada biji kuning, mengapa ada bahasa, mengapa manusia membuat rumah, pakaian, dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan etiologis ini dijawab dalam cerita Tantu Panggelaran.

Cerita yang menjawab tentang pertanyaan-pertanyaan etiologis ini banyak terdapat pula dalam dunia oriental kuna. Contoh yang paling mudah didapat adalah di dalam kitab suci umat Kristen (Injil/Alkitab). Di sana diceritakan juga, bahwa manusia dibuat dari tanah liat dan menurut rupa Tuhan, manusia semula berbahasa satu dan berkumpul bersama di Babel untuk membangun menara, dan kemudian menyebar ke seluruh penjuru bumi.

Selain itu cerita ini (dalam Kitab Tantu Panggelaran) mementingkan proses pengaturan alam semesta, dari dunia yang khaos menjadi dunia yang teratur (kosmos). Hal ini juga dapat ditemui dalam cerita-cerita orientalis kuna. Para Dewa sangat menghargai dunia yang teratur. Motif ini dapat dijumpai pula dalam cerita-cerita Yunani kuna sampai cerita-cerita India.

Dalam Tantu Panggelaran juga terdapat motif "pembangunan masyarakat beradab" atau cerita etiologis tentang munculnya peradaban manusia. Hal ini juga dapat dibandingkan dengan Kodex Hammurabi di Babilonia yang berisi hukum-hukum bagi keteraturan masyarakat setempat.

Di samping itu terdapat perbedaan teologis antara cerita Jawa Pertengahan ini dengan teologi Hindu di India. Di dalam kisah ini diceritakan bahwa Bhatara Guru adalah ayah dari dewa-dewa yang lainnya. Gunung menjadi tempat yang keramat, tempat para dewa. Motif ini juga terdapat dalam dunia teologis orientalis, contohnya : Ishak dipersembahkan di gunung Moria (Yerusalem). Zarathustra atau Zoroaster ketika berkotbah juga naik ke gunung. Firaun membuat piramida yang juga melambangkan gunung. Agama masyarakat Indonesia kuna juga membuat punden berundak-undak yang juga melambangkan gunung dan sebagainya.

Singkat kata, Kitab Tantu Panggelaran ini adalah sebuah produk bagian dari orientalis Jawa kuna. Hal ini adalah sebuah hipotesis yang dapat diuji ulang.

Candi Sukuh di Jawa Tengah.
Candi Sukuh adalah sebuah kompleks candi agama Hindu yang secara administratif terletak di wilayah kelurahan Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini dikategorikan sebagai candi Hindu karena ditemukannya obyek pemujaan yang berbentuk lingga dan yoni. Candi ini digolongkan sebagai candi yang kontroversial (menurut kacamata orang awam) karena bentuknya yang kurang lazim dan karena banyaknya obyek-obyek lingga dan yoni yang melambangkan seksualitas. Candi Sukuh telah diusulkan ke UNESCO untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia sejak tahun 1995.

Bunga Majapahit
Candi Sukuh di Jawa Tengah

Sejarah singkat penemuan.
Situs candi Sukuh dilaporkan pertama kali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java. Setelah masa pemerintahan Britania Raya berlalu, pada tahun 1842, Van der Vlis, arkeolog Belanda, melakukan penelitian. Pemugaran pertama dimulai pada tahun 1928.

Lokasi Candi Sukuh.
Lokasi candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut pada koordinat 07o37, 38’ 85’’ Lintang Selatan dan 111o07,. 52’65’’ Bujur Barat. Candi ini terletak di Dukuh Berjo, Desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta.

Struktur bangunan Candi.
Bangunan candi Sukuh memberikan kesan kesederhanaan yang mencolok pada para pengunjung. Kesan yang didapatkan dari candi ini sungguh berbeda dengan yang didapatkan dari candi-candi besar di Jawa Tengah lainnya semacam Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Bentuk bangunan candi Sukuh cenderung mirip dengan peninggalan budaya Maya di Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru. Struktur ini juga mengingatkan para pengunjung akan bentuk-bentuk piramida di Mesir.

Kesan kesederhanaan ini menarik perhatian arkeolog termashyur Belanda, W.F. Stutterheim, pada tahun 1930. Ia mencoba menjelaskannya dengan memberikan tiga argumen. Pertama, kemungkinan pemahat Candi Sukuh bukan seorang tukang batu melainkan tukang kayu dari desa dan bukan dari kalangan keraton. Kedua, candi dibuat dengan agak tergesa-gesa sehingga kurang rapi. Ketiga, keadaan politik kala itu dengan menjelang keruntuhan Majapahit, tidak memungkinkan untuk membuat candi yang besar dan megah.

Pendapat W.F. Stutterheim ini tidak sepenuhnya benar, ia dalam hal ini jelas-jelas tidak menguasai isi dari Kitab Tantu Panggelaran yang pada dasarnya menjadi inspirasi pembuatan candi Sukuh itu sendiri, baiklah dalam tulisan berikutnya akan penulis bahas tentang hal ini.

Bunga Majapahit
Denah lengkap Candi Sukuh di Jawa Tengah

(Bersambung .......... ke bagian kedua)

CANDI SUKUH DALAM KACAMATA TANTU PANGGELARAN (2)

BUNGA MAJAPAHIT. Dalam bagian yang pertama telah diuraikan secara umum tentang Kitab Tantu Panggelaran maupun Candi Sukuh. Selanjutnya dalam artikel ini dan artikel-artikel yang berikutnya akan diuraikan tentang Candi Sukuh dalam kacamata pandang Kitab Tantu Panggelaran.
Sebagaimana bagian yang pertama, bagian kedua dan selanjutnya ini terinspirasi dari artikel sahabat blogger yang berjudul Candi Sukuh candi yang tertua di pulau Jawa.

Asal mula terciptanya Pulau Jawa.
Kitab Tantu Pagelaran atau Tangtu Panggelaran adalah kitab Jawa kuno berbahasa Kawi yang berasal dari masa Majapahit sekitar abad ke-15. Kitab ini berkisah tentang mitos asal mula pulau Jawa.

Dalam kitab ini dikisahkan Bhatara Guru (Shiwa) memerintahkan Bhatara Brahma dan Wishnu untuk mengisi pulau Jawa dengan manusia. Karena pulau Jawa pada saat itu masih mengambang di lautan luas, terombang-ambing, dan senantiasa berguncang, maka para Bhatara memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Mahameru di India ke atas Pulau Jawa.

Bunga Majapahit
Candi Utama dari candi Sukuh melambangkan Gunung Mahameru

Bunga Majapahit
Candi Perwara di depan candi utama melambangkan gunung Pawitra

Bhatara Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya, sementara Bhatara Brahma menjelma menjadi ular naga raksasa yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman.

Bunga Majapahit

Bhatara Brahma dan Bhatara Wishnu meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian Barat pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian Timur terangkat ke atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian Timur pulau Jawa. Ketika gunung Meru dibawa ke Timur, serpihan gunung yang tercecer menciptakan jajaran pegunungan di pulau Jawa yang memanjang dari Barat ke Timur. Akan tetapi meskipun puncak Meru telah dipindahkan ke Timur, pulau Jawa masih tetap miring, sehingga para Bhatara memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian Barat Laut. Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Penanggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Bhatara Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru.

Sedikit penjelasan tentang gunung Pawitra (gunung Penanggungan), bila kita cermati, di bagian lereng-lereng gunung Penanggungan ini banyak tersebar candi-candi kecil yang membawa kita kepada suatu kesimpulan bahwa gunung Penanggungan ini dianggap sebagai gunung yang suci oleh masyarakat Jawa Kuno. Salah satu candi yang masih bagus adalah dikenal dengan nama Candi Kendalisodo seperti gambar di bawah ini.

Bunga Majapahit
Candi Kendalisodo dan goa pertapaan

Bunga Majapahit
Candi Lurah di lereng gunung Penanggungan

Tidak kurang dari 80 buah candi kecil-kecil dapat kita ketemukan di lereng gunung Pawitra (gunung Penanggungan) ini.

Kisah tentang penciptaan Manusia Jawa.

Setelah pulau Jawa tidak lagi bergoncang, Bhatara Guru ingin membuat manusia sebagai penghuni pulau Jawa. Untuk itu dia memerintahkan Bhatara Brahma dan Bhatara Wishnu menciptakan manusia. Mereka menciptakan manusia dari tanah yang dikepal-kepal lalu dibentuk manusia berdasarkan rupa dewa. Brahma menciptakan manusia laki-laki dan Wishnu menciptakan manusia perempuan, yang kemudian kedua manusia ciptaan para Bhatara tersebut dipertemukan dan mereka hidup saling mengasihi.

Bunga Majapahit


Demikianlah uraian tentang terciptanya pulau Jawa dan manusia pertama yang menghuni tanah Jawa, semoga bermanfaat.


(bersambung ........... ke bagian ketiga)

CANDI SUKUH DALAM KACAMATA TANTU PANGGELARAN (3)

BUNGA MAJAPAHIT. Dalam bagian yang kedua telah dikisahkan tentang penciptaan manusia Jawa untuk yang pertama kalinya, dalam bagian ketiga ini akan dikisahkan tentang munculnya peradaban manusia Jawa untuk yang pertama kalinya.

Proses terjadinya Peradaban Manusia di tanah Jawa (menurut Tantu Panggelaran).

Pada mulanya manusia (Jawa) telanjang karena tidak dapat membuat pakaian, tidak tinggal di dalam rumah, tidak dapat berbicara, oleh karena itu dapat dikatakan, bahwa manusia pertama yang tinggal di pulau Jawa tidak mempunyai peradaban. Untuk itu para dewa diberi tugas oleh Bhatara Guru untuk "memberi pelajaran" kepada manusia, supaya mereka dapat membuat pakaian, membuat rumah, dapat berbicara antara satu sama lainnya. Pada intinya para bhatara mengajar manusia Jawa tentang budaya dan peradaban. 

Bunga Majapahit
Gambaran manusia Jawa pertama belum mengenal peradaban

Perikop yang dikutip dari kitab Tantu Panggelaran untuk Babak ini adalah :

Demikianlah kata Bhatara Mahakarana (istilah lain dari Bhatara Guru):

Anakku, Brahma, turunlah engkau ke Pulau Jawa. Pertajamlah benda-benda tajam, misalnya: panah, parang, pahat, pantek, kapak, beliung, segala pekerjaan manusia. Engkau akan disebut pandai-besi. Engkau akan mempertajam benda-benda tajam itu di tempat yang bernama Winduprakasa. Ibu jari (kw. empu) kedua kakimu mengapit dan menggembleng, besi anak panah dikikir. Panah itu menjadi tajam oleh ibu jari kedua kaki, maka dari itu engkau akan disebut Empu Sujiwana sebagai pandai-besi, karena ibu jari/empu dari kakimu mempertajam besi. Oleh karena itu, tukang pandai-besi disebut empu, karena ibu jari kakinya menjadi alat bekerja. Demikianlah pesanku kepada anakku.

Bunga Majapahit

Lagi pesanku kepada anakku Wiswakarmma. Turunlah ke Pulau Jawa membuat rumah, biar dirimu ditiru oleh manusia. Sebab itu, engkau dinamai Hundahagi (membangun).

Adapun engkau Iswara. Turunlah ke Pulau Jawa. Ajarlah manusia ajaran berkata-kata dengan bahasa, apalagi ajaran tentang Dasasila (sepuluh hal yang utama) dan Pancasiksa (lima hukum/tata tertib). Engkau menjadi guru dari kepala-kepala desa, sehingga engkau dinamai Guru Desa di Pulau Jawa.

Bunga Majapahit
Bhatara Iswara yang mengajarkan Dasasila dan Pancasiksa

Adapun engkau Wishnu. Turunlah engkau ke Pulau Jawa. Biarlah segala perintahmu dituruti oleh manusia. Segala tingkah lakumu ditiru oleh manusia. Engkau adalah guru manusia, hendaknya engkau menguasai bumi.

Bunga Majapahit

Adapun engkau Mahadewa, turunlah engkau ke Pulau Jawa. Hendaknya engkau menjadi tukang pandai emas dan pembuat pakaian manusia.

Bunga Majapahit

Bhagawan Ciptagupta hendaknya melukis dan mewarnai perhiasan, serta membuat hiasan yang serupa dengan ciptaan, menggunakan alat ibu jari tanganmu. Oleh karena itu engkau akan dinamai Empu Ciptangkara sebagai pelukis.

Bunga Majapahit
Bhagawan Ciptagupta yang melukis menggunakan ibu jari tangan

Demikianlah kisah tentang munculnya peradaban di tanah Jawa untuk yang pertama kalinya, semoga bermanfaat.


(Selesai)

Dengan telah selesainya artikel tentang Candi Sukuh dalam kacamata Tantu Panggelaran ini diharapkan dapat membuka wawasan baru bagi masyarakat Jawa dalam memaknai Candi Sukuh secara lebih obyektif.

PENDIRIAN KERAJAAN MAJAPAHIT

Setelah raja Kertanegara gugur, Singhasari berada di bawah kekuasaan raja Kadiri Jayakatwang dan berakhirlah riwayat kerajaan Singhasari. Salah seorang keturunan penguasa/bangsawan Singhasari yaitu Wijaya, kemusian berusaha untuk dapat merebut kembali kekuasaan nenek moyangnya dari tangan raja Jayakatwang. Beliau (Wijaya) adalah putera Dyah Lembu Tal, cucu Mahisa Campaka atau Narasinghamurti. Jadi beliau masih keturunan Ken Angrok dan Ken Dedes secara langsung. Dari sisi geneologinya, Wijaya masih keponakan raja Kertanegara, bahkan beliau diambil sebagai menantu oleh raja Kertanegara serta dinikahkan dengan puterinya. Sumber kesusasteraan yaitu Kitab Pararaton dan beberapa Kidung lainnya menyebutkan bahwa beliau menikah dengan dua orang puteri raja, sedang sumber prasasti dan Kakawin (kitab) Negarakertagama menyebutkan beliau menikahi empat orang puteri raja Kertanegara (prasasti Sukamrta lempeng IIa dan IIb).


Pada saat pasukan Jayakatwang dari Kadiri menyerang Singhasari, Wijaya ditunjuk oleh raja Kertanegara untuk memimpin pasukan Singhasari melawan pasukan Kadiri yang datang dari sebelah Utara. Kisah pertempuran antara pasukan Wijaya melawan pasukan Kadiri dapat disarikan dari prasasti (piagam) Kudadu, satu di antara sejumlah kecil prasasti yang memberikan cerita sejarah secara panjang lebar dalam bagian samabandha-nya. Kisah pertempuran ini terdapat pula dalam Kitab Pararaton, Kidung Harsa-Wijaya dan Kidung Panji Wijayakrama dengan perbedaan dalam detil jika dibandingkan dengan keterangan dalam prasasti Kudadu.

Prasasti Kudadu ini berangka tahun 1216 Saka (11 September 1294), dikeluarkan oleh Kertarajasa Jayawarddhana (Wijaya) dalam rangka memperingati pemberian anugerah kepada pejabat desa (rama) di Kudadu, yang berupa penetapan desa Kudadu menjadi daerah swatantra. Dengan penetapan ini, maka desa Kudadu tidak lagi merupakan tanah ansa bagi Sang Hyang Dharmma di Kleme. Sebab muasal desa Kudadu memperoleh penghargaan/anugerah raja ialah karena desa ini (Kudadu) telah berjasa memberikan perlindungan dan bantuan bagi raja (Wijaya) pada saat beliau masih belum menjadi raja, dan bernama kecil Nararyya Sanggramawijaya, pada waktu beliau sampai di desa Kudadu karena dikejar musuh (Jayakatwang).


Baginda sampai mengalami kejadian demikian itu karena dahulu raja Kertanegara yang telah wafat di alam Siwa-Buda (dicandikan di Singosari) gugur karena serangan raja Jayakatwang (Jayakatyeng, Kitab Pararaton menyebutnya dengan nama Aji Katong) dari Gelang-Gelang (Kadiri), yang berlaku sebagai musuh, menjalankan hal yang amat tercela, menghianati sahabat dan mengingkari janji, hendak membinasakan raja Kertanegara di Tumapel (Singhasari).

Pada waktu pasukan Jayakatwang terdeteksi telah sampai di desa Jasun Wungkal, Wijaya dan Sang Arddharaja (anak Jayakatwang yang telah dipercaya oleh Kertanegara) diperintahkan oleh raja Kertanegara untuk menghadapinya. Setelah Wijaya dan Arddharaja berangkat dari Tumapel (Singhasari) dan telah sampai di desa Kedung Peluk, di situlah pertama kali pasukan Wijaya bertemu dengan musuh, bertempurlah pasukan Wijaya dan musuh dapat dikalahkan, serta melarikan diri dengan tidak terhitung jumlah pasukannya yang gugur. Majulah pasukan Wijaya ke desa Lembah, tidak ada musuh yang dijumpai karena semuanya telah mundur tanpa memberikan perlawanan. Pasukan Wijayapun maju terus, melewati Batang, dan sampai di desa Kapulungan. Di sebelah Barat desa Kapulungan itulah pasukan Wijaya bertemu dan bertempur kembali dengan musuh, musuh dapat dikalahkan, melarikan diri dengan menderita banyak kerusakan. Pasukan Wijaya bergerak maju terus dan sampai di desa Rabut Carat. Dan ketika sedang beristirahat datanglah musuh dari sebelah Barat, maka berperanglah pasukan Wijaya dengan mengerahkan kekuatan penuh, musuh dapat dikalahkan serta melarikan diri dengan  kehilangan banyak anggota pasukan. Sepertinya musuh telah habis dan mengundurkan diri. Tetapi pada saat yang bersamaan terlihatlah panji-panji musuh berkibaran di sebelah Timur desa Haniru, merah dan putih warnanya (' .... ring samangkana, hana ta tunggulning satru layu-layu katon wetaning Haniru, bang lawan putih warnnanya ...,' Prof. M. Yamin menafsirkan panji-panji pasukan Kadiri itu berwarna merah-putih). Melihat panji-panji itu bubarlah pasukan Sang Arddharaja, melakukan penghianatan, lari tanpa sebab menuju ke Kapulungan, itulah permulaan rusaknya pasukan Wijaya.

Selanjutnya silahkan baca di sini

TRIBHUWANOTTUNGGADEWI

Raja Jayanegara tidak berputera, maka sepeninggalnya pada tahun 1328, beliau digantikan oleh adik perempuannya yaitu Bhre Kahuripan yang dinobatkan menjadi raja Majapahit dengan gelar abhiseka Tribhuwanottunggadewi Jayawisnuwarddhani. Beliau menikah dengan Cakradhara atau Cakreswara yang menjadi raja di Singhasari (Bhre Singhasari) dengan gelar Kertawarddhana. Adik Tribhuwana yang menjadi Bhre Daha dengan nama Rajadewi Maharajasa kawin dengan Kudamerta yang menjadi Bhre Wengker dengan nama Wijayarajasa.


Dari kakawin Negarakertagama kita mengetahui bahwa dalam masa pemerintahan Tribhuwana telah terjadi pemberontakan di Sadeng dan Keta pada tahun 1331. Pemberontakan itu dapat dipadamkan oleh Gajah Mada. Kitab Pararaton memberikan versi yang panjang lebar tentang peristiwa Sading itu. Arya Tadah yang waktu itu menjabat Patih Amangkubhumi di Majapahit sedang jatuh sakit. Ia meminta kepada Gajah Mada supaya mau dicalonkan sebagai Patih Amangkubhumi menggantikan dirinya. Gajah Mada tidak mau sebelum ia kembali dari Sadeng untuk menumpas pemberontakan. Maka berangkatlah ia ke Sadeng, tetapi telah kedahuluan oleh Kembar. Ia memerintahkan para mantri untuk menundukkan Kembar, tetapi Kembar membangkang. Akhirnya pemberontakan itu dapat dipadamkan setelah baginda raja turun tangan sendiri, kemudian Gajah Mada diangkat menjadi Patih Amangkubhumi.

Keterangan lebih lanjut silahkan baca di sini.

SRI RAJASANAGARA (HAYAM WURUK)

Pada tahun 1350 putra mahkota Hayam Wuruk dinobatkan menjadi raja Majapahit dan bergelar Sri Rajasanagara dan dikenal pula dengan nama Bhra Hyang Wekasing Sukha. Ketika ibunya Tribhuwanottunggadewi masih memerintah, Hayam Wuruk telah dinobatkan menjadi raja muda (kumararaja) dan mendapatkan daerah Jiwana sebagai daerah lungguhnya. Dalam menjalankan pemerintahannya Hayam Wuruk didampingi Mahapatih Gajah Mada yang menduduki jabatan Patih Hamangkubhumi. Jabatan ini sebenarnya telah diperoleh Gajah Mada ketika ia mengabdi kepada raja Tribhuwanottunggadewi, yaitu setelah ia berhasil menumpas pemberontakan di Sadeng.


Dengan bantuan patih Gajah Mada raja Hayam Wuruk berhasil membawa kerajaan Majapahit ke puncak kebesarannya. Seperti halnya raja Singhasari Kertanegara yang memiliki gagasan politik perluasan cakrawala mandala yang meliputi seluruh dwipantara, Gajah Mada ingin pula melaksanakan gagasan politik Nusantara-nya, sebagaimana yang telah dicetuskannya dalam Sumpah Palapa di hadapan Tribhuwanottunggadewi dan para pembesar kerajaan Majapahit waktu itu.


Dalam rangka menjalankan politik Nusantaranya itu satu demi satu daerah-daerah yang belum bernaung di bawah panji-panji kekuasaan Majapahit akan ditundukkan dan dipersatukannya. Dari pemberitaan Prapanca dalam kakawin Negarakertagama kita mendapatkan informasi tentang daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan Majapahit itu ternyata sangat luas. Daerah-daerah ini meliputi hampir seluas wilayah Indonesia sekarang ini, meliputi daerah-daerah di Sumatera bagian Barat sampai ke daerah-daerah Maluku dan Irian di bagian Timur ; bahkan pengaruh itu telah diperluas pula sampai kebeberapa negara tetangga di wilayah Asia Tenggara. Agaknya politik Nusantara ini berakhir pada tahun 1357 M dengan terjadinya peristiwa di Bubat (pasundan-bubat), yaitu perang antara orang-orang Sunda dengan Majapahit.
Untuk lebih jelasnya silahkan baca di sini.

KERETA KERAJAAN MAJAPAHIT

Majapahit. Mengenai kereta kerajaan Majapahit ini kakawin Negarakertagama, utamanya dalam pupuh XVIII menyebutkan beberapa bentuk kereta, mulai dari pedati, kereta Patih Amangkubhumi, kereta Sri Nata Pajang, kereta Sri Nata Lasem, kereta Sri Nata Daha, kereta Sri Nata Jiwana, kereta Sri Nata Wilwatikta serta kereta berwarna merah untuk para wanita. Masing-masing kereta tersebut memiliki ciri khas yang berbeda-beda.

Kereta Patih Amangkubhumi memiliki aneka tanda, kereta Sri Nata Pajang bergambar matahari, kereta Sri Nata Lasem bergambar banteng putih, kereta Sri Nata Daha bergambar dahakusuma (mas mengkilat), kereta Sri Nata Jiwana berhias bergas, kereta Sri Nata Wilwatikta (raja Majapahit) bergambar buah maja, beratap kain geringsing, berhias lukisan mas, bersinar merah indah.

Pupuh ini tidak menjelaskan secara lebih detil mengenai bentuk kereta kerajaan Majapahit, hanya dijelaskan bahwa kereta Sri Nata Wilwatikta (raja Majapahit) bergambar buah maja, beratap kain geringsing, berwarna merah berhias lukisan emas. Kiranya gambar di bawah ini dapat sedikit menunjukkan kepada kita mengenai bentuk kereta kerajaan tersebut walaupun mungkin tidak sepenuhnya benar.



Arca atau patung berbentuk kereta tersebut di atas diketemukan di kawasan alun-alun Singosari pada tahun 1910, namun saat ini tidak diketahui secara pasti dimana tempat penyimpanannya.

Demikianlah sekilas pintas tentang kereta kerajaan Majapahit, semoga bermanfaat.

MELURUSKAN SEJARAH MAJAPAHIT ? BOHONG !!!! (1)

"Meluruskan Sejarah Majapahit" adalah sebuah buku tulisan Irawan Djoko Nugroho, infonya dapat di lihat di sini : http://www.facebook.com/topic.php?uid=78845515468&topic=12527 (facebook) dan di sini : http://catalogue.nla.gov.au/Record/4767070 (katalog buku). Sang penulis mengaku alumnus Universitas Gajah Mada, Jogyakarta jurusan/fakultas Filologi.

Beberapa hal yang tertulis di dalam buku karangan beliau (Meluruskan Sejarah Majapahit) adalah tidak benar alias salah kaprah. Alih-alih 'meluruskan sejarah Majapahit' tetapi pada faktanya malah "Membelokkan Sejarah Majapahit". Artikel atau tulisan ini akan membahas pembelokan-pembelokan tersebut secara bersambung atau berkelanjutan.

Pembelokan pertama disebutkan bahwa Gajah Mada (sebagai mahapatih Majapahit) ternyata ada dua orang, yang pertama hidup pada masa pemerintahan Tribhuwanatunggadewi/Hayam Wuruk dan yang kedua hidup pada masa pemerintahan Brawijaya V. Selanjutnya dikatakan bahwa Gajah Mada yang berhasil mempersatukan Nusantara adalah Gajah Mada yang ke-2, yang hidup pada masa pemerintahan Brawijaya V.


MAJAPAHIT : BHINNEKA TUNGGAL IKA

Majapahit dengan konsep Negara Kesatuan-nya telah diuraikan dalam artikel terdahulu, motivasi menuju Negara Kesatuan versi Majapahit ini adalah berkat Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Mahapatih Gajah Mada. Selanjutnya dalam artikel ini akan sedikit diuraikan fakta-fakta negara kesatuan dengan falsafah Bhinneka Tunggal Ika yang terdapat di dalam lingkungan kota raja Majapahit.

Adalah kitab (kakawin) Sutasoma gubahan Mpu Tantular yang ditulis pada masa keemasan kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan raja Sri Rajasanagara (Dyah Hayam Wuruk),  yang diperkirakan ditulis antara tahun 1365 M hingga 1389 M, dan merupakan kakawin yang lebih muda dibandingkan dengan kakawin Negarakertagama.

Fragmen lontar Sutasoma, berasal dari Jawa Tengah ditulis dengan aksara Buda

RAJA-RAJA MAJAPAHIT AKHIR (2)

Sepeninggal Dyah Suraprabhawa, kedudukannya sebagai raja Majapahit digantikan oleh anaknya Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya, yang sebelum menduduki tahta Majapahit beliau berkedudukan sebagai Bhattara i Kling (Raja bawahan di Keling). Pada masa pemerintahannya beliau tidak berkedudukan di Majapahit, melainkan tetap di Keling, oleh karenanya dalam prasasti-prasasti yang dikeluarkannya beliau disebutkan sebagai Paduka Sri Maharaja Bhattara i Kling disamping sebagai Paduka Sri Maharaja Sri Wilwatiktapura Janggala Kadiri Prabhunata.

Pada awal pemerintahannya, Ranawijaya didampingi oleh seorang rakryan apatih yang bernama Pu Wahan (lihat : OJO XCI, baris kedua), sedang pada akhir masa pemerintahannya ia didampingi oleh seorang rakryan apatih yang bernama Udara. Dari Babad Tanah Jawi diperoleh keterangan bahwa patih Udara ini adalah anak dari patih Pu Wahan, yang semula ia berkedudukan sebagai adipati di Kadiri (lihat : W.L. Olthof, Babad Tanah Jawi, 1941, teks bahasa Jawa, hal. 17-18). Suma Oriental, Tome Pires (Armando Cortesao, The Suma Oriental of Tome Pires I, 1944, hal. 175 -176) menyebutkan patih Udara ini dengan nama Pate Udra atau Pate Andura (Pate Amdura). M.C. Ricklefs, menghubungkan Pate Andura atau Pate Amdura ini dengan tokoh yang bernama Arta Dirya, yang disebutkan dalam Babad ing Sengkala sebagai raja yang pernah memerintah pada tahun Saka 1403-1407 / 1481 M - 1486 M (lihat : M.C. Ricklefs, Modern Javanese Historical Tradition : A Story of an Original Kartasura Chronicle and Related Materials, London, 1978, hal. 159).

Pada masa pemerintahannya, Ranawijaya berusaha pula untuk mempersatukan kembali wilayah kerajaan Majapahit yang telah terpecah-pecah akibat pertentangan keluarga memperebutkan kekuasaan di Majapahit. Untuk melaksanakan cita-citanya tersebut, maka pada tahun Saka 1400 (1478 M) ia melancarkan peperangan terhadap Bhre Kertabhumi yang pada waktu itu berkedudukan di Majapahit. Sebagaimana telah diketahui bahwa Bhre Kertabhumi ini telah merebut tahta kerajaan Majapahit dari tangan Bhre Pandan Salas (ayah Ranawijaya) pada tahun 1468 M. Oleh karenanya, tindakan Ranawijaya menyerang Bhre Kertabhumi ini pada dasarnya merupakan revanche (tindakan balasan) atas perbuatan Bhre Kertabhumi tersebut. Dalam peperangan tersebut Ranawijaya berhasil merebut kembali kekuasaan Majapahit dari tangan Bhre Kertabhumi, dan Bhre Kertabhumi gugur di kadaton. Peristiwa gugurnya Bhre Kertabhumi ini disebutkan pula di dalam Kitab Pararaton (" .... bhre Kertabhumi ..... bhre prabhu sang mokta ring kadaton i saka sunyanora-yuganing-wong, 1400", Pararaton, hal 40. Lihat pula : Hasan Djafar, Girindrawardhana, 1978, hal. 50). Dari uraian kitab Pararaton inilah kemudian muncul candrasengkala 'Sirna ilang kertining bhumi' , oleh karenanya candrasengkala tersebut pada dasarnya adalah merupakan peringatan tentang peristiwa gugurnya Bhre Kertabhumi di kadaton akibat serangan dari Dyah Ranawijaya dan bukan candrasengakala untuk memperingati keruntuhan Majapahit akibat serangan kerajaan Islam Demak.

Peristiwa serangan Ranawijaya terhadap Bhre Kertabhumi ini disebutkan di dalam prasasti Jiwu I yang dikeluarkan oleh Ranawijaya pada tahun 1486 M. Prasasti tersebut dikeluarkan sehubungan dengan pengukuhan anugerah tanah-tanah di Trailokyapuri kepada seorang brahmana terkemuka Sri Brahmaraja Ganggadhara yang telah berjasa kepada raja (Ranawijaya) sewaktu perang melawan Majapahit (Bhre Kertabhumi) sebagai ternyata dalam kalimat "duk ayunayunan yuddha lawaning Majapahit".

Dari prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya pada tahun 1486 M, diketahui adanya upacara sraddha untuk memperingati dua belas tahun meninggalnya Paduka Bhattara ring Dahanapura. Tokoh Bhattara ring Dahanapura ini dapat diidentifikasikan sebagai Bhre Pandan Salas Dyah Suraprabhawa Sri Singhawikramawarddhana (Lihat : Martha A Muuses "Singhawikramawarddhana", FBG, II, 1929, hal 207-214, lihat pula Zoetmulder ,P.J "Djaman Empu Tanakung", Laporan KIPN-II, VI, Seksi D, 1965, hal.207), yang telah meninggalkan istana Majapahit pada tahun 1468 M akibat serangan dari Bhre Kertabhumi.

 

RAJA-RAJA MAJAPAHIT AKHIR (1)

Setelah interregnum (kekosongan kepemimpinan) selama tiga tahun, maka pada tahun 1456 M, tampillah Dyah Suryawikrama Girisawarddhana menaiki tahta kerajaan Majapahit. Ia adalah salah seorang anak Dyah Kertawijaya yang semasa pemerintahan ayahnya telah menjadi raja daerah (bawahan) di Wengker (Bhattara ing Wengker). Di dalam kitab Pararaton ia disebutkan dengan nama gelarnya Bhra Hyang Purwwiwisesa. Ia memerintah selama sepuluh tahun, dan pada tahun 1466 M ia meninggal dunia dan didharmakan di Puri.

Sebagai penggantinya kemudian Bhre Pandan Salas menaiki tahta kerajaan Majapahit dan memerintah mulai tahun 1466 M. Ia dikenal pula dengan nama Dyah Suraprabhawa Sri Singhawikramawarddhana. Sebelum menjadi raja di Majapahit, ia berkedudukan sebagai raja daerah (bawahan) di Tumapel (bhattara ring Tumapel). Lihat Pararaton hal 40, prasasti Waringinpitu lempeng IV-verso, baris 1-4 dan prasasti Trawulan III, di dalam OV, 1918, hal. 170. Kitab Pararaton menyebutkan bahwa ia hanya memerintah selama dua tahun, kemudian menyingkir meninggalkan keratonnya. Fakta yang ada berdasarkan prasasti Pamintihan (lihat : F.D.K Bosch, "De Oorkonde van Sendang Sedati", OV, 1922, hal. 22-27) yang dikeluarkan olehnya pada tahun 1473 M, ternyata bahwa sampai pada waktu itu ia masih memerintah sebagai raja Majapahit, bahkan di dalam prasastinya ia disebutkan sebagai seorang Sri Maharajadhiraja yang memimpin raja-raja keturunan Tuan Gunung (sri giripatiprasutabhupatiketubhuta), disamping disebutkan pula sebagai "penguasa tunggal di tanah Jawa" (yawabhumyekadhipa). Di dalam manggala kakawin Siwaratrikalpa gubahan Mpu Tanakung, ia disebutkan pula sebagai "seorang raja yang memang telah sepantasnya menjadi keturunan wangsa Girindra" (tan lyan sry adisuraprabhawa sira bhupati sapala Girindrawangsaja). Lihat : P.J. Zoetmulder, "Djaman Mpu Tanakung", Laporan KIPN-II, VI, 1965, hal 206 dan P.J. Zoetmulder, "Kalangwan", 1974, hal. 365 ; A. Teeuw et al. "Siwaratrikalpa", 1969, hal. 64,68.

Dengan adanya kenyataan yang demikian ini maka pemberitaan kitab Pararaton yang menyebutkan Bhre Pandan Salas hanya memerintah sebagai raja Majapahit selama dua tahun tidaklah benar adanya. Namun pemberitaan mengenai penyingkiran Bhre Pandan Salas dari keratonnya dapatlah dibenarkan. Penyingkiran Bhre Pandan Salas ini disebabkan oleh serangan dari Bhre Kertabhumi, yang ingin merebut kekuasaan Majapahit. Dari kitab Pararaton dapatlah diketahui bahwa Bhre Kertabhumi adalah anak bungsu Sang Sinagara (Rajasawarddhana).
Dari prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya pada tahun 1486, diketahui adanya penyelenggaraan upasara Sraddha untuk memperingati duabelas tahun mangkatnya Paduka Bhattara ring Dahanapura. Oleh para sarjana tokoh Bhattrara ring Dahanapura ini diidentifikasikan sebagai Bhre Pandan Salas Dyah Suraprabhawa Sri Singhawikramawarddhana. Lihat : Martha A. Muusses, "Singhawikramawarddhana", FBG, II, 1929, hal 207-214 ; B.J.O Schrieke, Indonesian Sociological Studies, Part Two : Ruler and Relam in Early Java. The Hague/Bandung: W. van Hooeve, 1957, hal. 44 dst.

Dengan berdasarkan pada keterangan-keterangan yang terdapat pada prasasti-prasasti Girindrawarddhana tersebut dapat diduga bahwa ketika keraton Majapahit diserang oleh Bhre Kertabhumi, maka Bhre Pandan Salas menyingkir ke Daha, melanjutkan pemerintahannya sampai saat ia meninggal dunia pada tahun 1474 M.

Bersambung  ........... ke bagian kedua
 

MAJAPAHIT : GAJAH MADA (1)

Gajah Mada ialah Mahapatih Majapahit yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Gajah Mada diperkirakan lahir pada tahun 1300 di lereng pegunungan Kawi - Arjuna, daerah yang kini dikenal sebagai kota Malang (Jawa Timur). Sejak kecil, Gajah Mada sudah menunjukkan kepribadian yang baik, kuat dan tangkas. Kecerdasannya telah menarik hati seorang patih Majapahit yang kemudian mengangkatnya menjadi anak didiknya. Beranjak dewasa terus menanjak karirnya hingga menjadi Kepala (bekel) Bhayangkari (pasukan khusus pengawal raja). Karena berhasil menyelamatkan Prabu Jayanegara (1309-1328) dan mengatasi pemberontakan Ra Kuti, ia kemudian diangkat sebagai Patih Kahuripan pada 1319. Dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Kediri.


IKON KOTA RAJA MAJAPAHIT

Sebelum manusia lahir di muka bumi, alam semesta didiami oleh dewa-dewa yang tinggal di atas kahyangan, sedangkan daitya-daitya tinggal di bawah mewakili keburukan. Para dewa dan daitya selalu saja bertengkar.

Pada suatu ketika, para dewa mencari air kehidupan atau amerta. Sayangnya air kehidupan itu tersembunyi di dasar laut dan dijaga oleh sejumlah naga. Dewa Brahma memanggil para dewa di puncak Gunung Mahameru untuk ditugaskan mengaduk laut supaya dari pusatnya keluarlah amerta. Para daitya pun dilibatkan dalam proyek tersebut.

Konon, sebagai alat pengaduknya adalah Gunung Mandara yang diangkut para dewa ke tepi laut. Dewa Wisnu menjelma menjadi kura-kura yang sangat besar untuk alas Gunung Mandara, sedangkan Dewa Wasuki menjelma menjadi ular besar untuk membelit gunung itu. Kepala ular ditarik para daitya, sedangkan ekornya ditarik para dewa, maka berputarlah Gunung Mandara mengaduk air laut.
Singkat cerita, keluarlah Dewa Dhanwantari, tabib kahyangan dari dalam laut. Di tangannya ia membawa guci yang berisi amerta, air dambaan para dewa.
Inilah ringkasan kisah Amertamanthana yang dipetik dari Kitab Mahabharata dari India. Amertamanthana menceritakan terjadinya dunia ini melalui pengadukan laut susu untuk mendapatkan amerta, air kehidupan. 

Ikon kota
Naga atau ular besar merupakan ikon yang sangat penting untuk menggambarkan mitologi alam semesta. Pada masa Jawa Kuno, pahatan naga sering terpahat pada tubuh yoni, miniatur bangunan candi, relief candi, dan pada bangunan candi itu sendiri. Naga yang dipahatkan itu tidak melulu tentang Amertamanthana, melainkan juga ada yang berkaitan dengan masalah kesuburan dan kepercayaan lainnya.
Naga sebagai ikon kota kuno dapat dilihat pada situs kota Angkor di Kamboja. Tata letak kota itu benar-benar replika penciptaan dunia dengan cara pengadukan laut susu.
Sebelum memasuki kota Angkor terdapat tanggul Angkor Thom. Di kanan kiri jalan-tanggul terdapat 54 raksasa yang memegang seekor naga dan posisi mereka membelakangi kota. Ketika masuk kota, yang di sebelah kiri adalah dewa-dewa kahyangan, dan di sebelah kanan dewa-dewa dunia-dunia bawah tanah.
Di tengah kota terdapat Candi Bayon sebagai gunung suci dengan pintu-pintu simetris yang berlawanan arah, timur-barat dan utara-selatan. Dewa kahyangan dari pintu selatan tampak menarik naga yang melingkar-lingkar secara simbolis di sekeliling Candi (Gunung) Bayon, untuk ditangkap pada bagian ujungnya oleh dewa-dewa neraka dari dunia-dunia bawah tanah yang terdapat di pintu utara. Demikian pula halnya antara pintu barat dan timur.
Dewa-dewa itu menarik secara bergantian, membuat Candi Bayon seperti berputar pada porosnya, simbol kegiatan mengaduk lautan kosmik, yang digambarkan dalam bentuk parit-parit air.
 
 

HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH (1)

Mungkin daftar daerah bawahan sebagaimana yang pernah ditulis dalam postingan terdahulu dirasakan agak berlebihan, sebaliknya perlu dipahami bahwa pengertian kerajaan/daerah bawahan Majapahit pada abad ke empat belas berbeda dengan pengertian koloni pada jaman modern ini. Persembahan upeti dari kerajaan-kerajaan bawahan tidak banyak berarti nilainya bagi Majapahit. Pemberian upeti yang kecil ini sudah dianggap sebagai bukti pengakuan terhadap kekuasaan Majapahit atas daerah yang bersangkutan, dan oleh karenanya daerah itu dianggap sebagai daerah bawahan Majapahit. Contoh misalnya : Kerajaan Pu-Ni yang dipimpin oleh Hiawang hanya memberikan upeti sebesar 40 kati kapur barus. Hal ini sangat tidak bernilai secara ekonomis.

PERLUASAN WILAYAH KERAJAAN MAJAPAHIT (1)

Majapahit terletak di lembah sungai Brantas di sebelah Tenggara kota Mojokerto, di daerah Tarik, sebuah daerah kecil di persimpangan Kali Mas dan Kali Porong. Konon pada akhir tahun 1292 tempat itu masih merupakan hutan belantara, penuh dengan pohon-pohon maja seperti kebanyakan tempat-tempat lainnya di lembah sungai Brantas. Berkat kedatangan orang-orang Madura, yang sengaja dikirim ke sana oleh Adipati Wiraraja dari Sumenep, hutan tersebut berhasil ditebangi dan dijadikan perladangan, dihuni oleh orang-orang Madura, pelarian dari Singosari dan pengikut-pengikut setia Sanggramawijaya, serta dinamakan Majapahit (desa).
Pada permulaan tahun 1293, ketika tentara Tar-tar di bawah pimpinan Shih-pi, Kau Hsing dan Ike Messe dating ke sana, kepala desa Majapahit bernama Tuhan Pijaya (Groeneveldt, W.P, Notes on the Malay Archipelago and Malacca, compiled from Chinese source VBG XXXIX, 1880. Cetakan ulang : Historical Notes on Indonesia and Malaya, Bhatara, Jakarta, 1960. hal. 30), yakni Nararya Sanggramawijaya.
MAJAPAHIT BUKAN KESULTANAN ISLAM (6)

MAJAPAHIT BUKAN KESULTANAN ISLAM (6)

Argumen ke enam yang dikemukakan oleh Herman Sinung Janutama adalah

"Tentang  keturunan Arab  yang banyak menjadi penguasa di Nusantara"
Perihal banyaknya keturunan Arab yang menjadi penguasa di Nusantara ini tidaklah langsung berkaitan dan atau dapat dijadikan bukti bahwa Majapahit adalah merupakan kerajaan Islam, hal ini jelas-jelas tidak berdasar dan terkesan merupakan sebuah argumen yang dicari-cari. Kerajaan Majapahit jelas-jelas didirikan oleh seseorang yang bernama Nararya Sanggramawijaya (jelas nama asli yang berasal dari tanah Jawa), putera Dyah Lembu Tal dan cucu Narasinghamurti ( dilihat dari segi nama, kesemuanya jelas orang jawa ) dan kesejarahannya dapat dibuktikan sejak jaman kerajaan Singasari dengan penelitian piagam atau prasasti yang merupakan bukti otentik.

Paralel dengan pernyataan tersebut adalah : Proklamasi NKRI tanggal 17 Agustus 1945 ditanda-tangani oleh dua orang tokoh, negarawan dan pejuang bangsa Indonesia yaitu SoekarnoHatta. Siapa yang berani menyangkal bahwa kedua beliau tersebut memeluk agama Islam ? Tetapi dengan fakta bahwa kedua beliau  tersebut memeluk agama Islam, tidak lantas berarti bahwa Indonesia adalah negara Islam, bahkan beliau berdua (Sang Proklamator) jelas-jelas mengetengahkan slogan Bhinneka Tunggal Ika dengan Pancasila sebagai falsafah dasar NKRI.

Selanjutnya, sampai saat inipun para pemimpin negeri kita mayoritas beragama Islam, tetapi mereka-mereka tidak lantas mengubah Indonesia menjadi negara Islam, karena masih ada UUD 1945 dan falsafah Pancasila sebagai  alat pemersatu bangsa yang telah disepakati secara nasional sejak berdirinya negeri ini.
Fakta berikutnya, mayoritas pelaku ekonomi sekaligus penguasa-ekonomi di negeri ini adalah mereka-mereka keturunan Cina, tetapi hal ini tidak lantas membuktikan bahwa Indonesa adalah negara Cina. Sama sekali tidak !

Dan satu hal yang wajib dicatat dan dipahami secara mendasar adalah bahwa slogan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi falsafah dasar negeri ini, pada dasarnya diambil dari slogan asli jaman Majapahit yang lengkapnya berbunyi Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa. Hal ini jelas-jelas membuktikan kepada kita bahwa Majapahit bukanlah kerajaan Islam.

MAJAPAHIT BUKAN KESULTANAN ISLAM (5)

Argumen kelima yang dipergunakan oleh Herman Sinung Janutama adalah sebagai berikut  :

Di samping itu, Gajah Mada yang menjadi Patih Majapahit yang sangat terkenal terutama karena Sumpah Palapanya ternyata adalah seorang muslim. Hal ini karena nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih di Kerajaan Majapahit. Hanya saja, untuk lebih memudahkan penyebutan yang biasanya berlaku dalam masyarakat Jawa, maka digunakan Gajahmada saja. Dengan demikian, penulisan Gajah Mada yang benar adalah Gajahmada dan bukan ‘Gajah Mada’. Pada nisan makam Gajahmada di Mojokerto pun terdapat tulisan  ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim.

Penulis adalah penduduk Mojokerto, dan sejak tahun 2004 telah aktif menelusuri jejak-jejak kebesaran Majapahit yang tersisa di wilayah Kabupaten Mojokerto, khususnya di wilayah Trowulan yang terkenal sebagai pusat kerajaan Majapahit. Hingga tulisan ini dibuat, penulis belum pernah sekalipun menemukan makam Gajah Mada di wilayah Trowulan (Mojokerto). Dengan demikian apa yang diungkap oleh Herman Sinung Janutama perihal makam Gajah Mada (di Mojokerto) adalah merupakan suatu rekayasa sejarah yang menyesatkan, terutama bagi generasi muda mendatang. Satu-satunya petilasan Gajah Mada (menurut kepercayaan masyarakat) adalah berupa petilasan yang terkenal dengan petilasan Mbah Jamong, berada di daerah Lebak Jabung, Kecamatan Jatirejo yang berbatasan dengan wilayah Jombang, tempat ini dipercaya sebagai tempat moksa-nya Gajah Mada. Perhatikan foto-foto berikut ini.

Petilasan Gajah Mada dari luar


Foto Prasasti Pembangunan kembali komplek petilasan Gajah Mada


 Foto bagian dalam petilasan Gajah Mada


Terlihat dengan jelas bahwa petilasan Gajah Mada tersebut di atas bukanlah sebuah makam, dan memang tidak pernah ada makam di komplek tersebut.

Perihal nama atau sebutan Gajah Mada, baiklah kita teliti fakta sejarah yang berupa piagam atau prasasti Singasari (D 111)  yang berangka tahun 1273 Saka (27 April 1351) yang dikeluarkan oleh Rakryan Mapatih Mpu Mada atau Gajah Mada sendiri (lihat J.L.A Brandes, ROC, 1904, hal. 4 - 5). Prasasti ini menjelaskan perihal adanya pahom narendra yang disebut dengan Bhattara Saptaprabhu  yang merupakan suatu Dewan Pertimbangan Kerajaan. Dalam prasasti tersebut dijelaskan kepada kita nama Gajah Mada yang sebenarnya adalah Mpu Mada dengan gelar jabatan Rakryan Mapatih

Lebih jauh lagi bila kita teliti kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca seorang pujangga Majapahit yang merupakan saksi sejarah kebesaran Majapahit di bawah kekuasaan Hayam Wuruk, (karena ia hidup di jaman pemerintahan prabu Hayam Wuruk) di dalam pupuh XII/4 menjelaskan kepada kita :
"Di Timur Laut rumah patih Wilwatikta, bernama Gajah Mada, menteri wira, bijaksana, setia bakti kepada negara, fasih bicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur, tangan kanan maharaja sebagai penggerak roda negara".
Demikianlah jelas bahwa nama yang sebenarnya adalah Mpu Mada (menurut prasasti Singasari tahun 1273 Saka) dan Gajah Mada (menurut Negarakertagama yang selesai ditulis oleh Mpu Prapanca di sekitar tahun 1365).

Dengan demikian apa yang ditulis oleh Herman Sinung Janutama dengan menyebutkan makam Gajah Mada di Mojokerto serta nama Gajah Mada yang sebenarnya adalah Gaj Ahmada, pada dasarnya adalah imajinasi-nya sendiri dan sama sekali tidak ditunjang dengan fakta-fakta sejarah yang ada. Jelas terkesan di sini adanya upaya-upaya pembelokan sejarah yang dilakukan secara terang-terangan, yang pada dasarnya hendak mencari legitimasi-semu belaka.

Selanjutnya, dipersilahkan untuk membaca bagian keenam

 

MAJAPAHIT BUKAN KESULTANAN ISLAM (4)

Fakta keempat yang dipergunakan oleh Herman Sinung Janutama untuk memperkuat argumentasinya adalah :

4. Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran sufi, sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari penguasa Sriwijaya. Meskipun bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang sangat bernuasa Hindu karena menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi bukan  lantas menjadi justifikasi bahwa beliau adalah seorang penganut Hindu. Bahasa Sanskerta  di masa lalu lazim digunakan untuk memberi penghormatan yang tinggi kepada seseorang, apalagi seorang raja. Gelar seperti inipun hingga saat ini masih digunakan oleh para raja muslim Jawa, seperti Hamengku Buwono dan Paku Alam Yogyakarta serta Paku Buwono di Solo.

Sangkalan pertama ditulis oleh Adang Setiawan, sebagai berikut  :

Saya sungguh tidak tahu atas dasar apa ada pendapat yang menyatakan bahwa pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim dan Prabu Guru Dharmasiksa adalah seorang ulama Islam. Hingga kini, saya belum menemukan sumber otentik, bahkan cerita rakyat sekalipun yang menyatakan Raden Wijaya serta Prabu Guru Dharmasiksa adalah seseorang yang menganut agama Islam.

Sumber tulisan adalah di sini

Untuk mementahkan fakta yang diungkap oleh Herman Sinung Janutama tersebut di atas, baiklah kita tinjau fakta sejarah yang berupa Prasasti atau Piagam Kertarajasa Jayawardhana yang ketiga bertarikh 1305,  prasasti ini dikeluarkan oleh Raja Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) sendiri untuk memperingati pemberian otonomi kepada Candi Sri Harsawijaya, pernah diterbitkan oleh Prof. Purbatjaraka dalam T.B.G LXXVI, 1936, hal. 373-390. Dalam piagam ini dinyatakan dengan jelas bahwa Sanggramawijaya (nama asli Raden Wijaya) mendirikan DINASTI RAJASA seperti nyata pada kalimat "Maharaja Sanggramawijaya Rajasa wangsa maniwrenda kostena ranangga surawira". Sanggramawijaya selaku pendiri kerajaan Majapahit, dalam beberapa prasasti selalu mengemukakan bahwa kerajaan Majapahit adalah kelanjutan dari kerajaan Singasari, dan raja Majapahit adalah keturunan raja-raja Singasari.
Lebih jauh lagi, setelah menobatkan dirinya menjadi raja Majapahit, beliau (Raden Wijaya) mengambil nama abhiseka (gelar) KERTARAJASA JAYAWARDHANA yang di dalam prasasti tahun 1305 bagian II dijelaskan arti dari nama gelaran tersebut yang terdiri dari 10 suku kata dan dapat dipecah menjadi empat kata yaitu kerta, rajasa, jaya  dan wardhana yang artinya adalah : unsur kerta mengandung arti bahwa baginda memperbaiki pulau Jawa dari kekacauan yang ditimbulkan oleh penjahat-penjahat dan menciptakan kesejahteraan bagi rakyat, oleh karenanya beliau bagi rakyat Majapahit waktu itu sama dengan matahari yang menerangi bumi. Unsur rajasa mengandung arti bahwa baginda berjaya mengubah suasana gelap menjadi suasana terang-benderang akibat kemenangan beliau terhadap musuh, dengan kata lain beliau adalah penggempur musuh. Unsur jaya mengandung arti bahwa baginda mempunyai lambang kemenangan berupa senjata tombak berujung mata-tiga (trisula-muka), karena senjata tersebut maka segenap musuh hancur lebur. Perlu diketahui dan dicatat bahwa senjata Trisula adalah senjata Dewa Siwa, dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Sanggramawijaya (Raden Wijaya) adalah seorang pemeluk agama Siwa yang taat. Selanjutnya unsur wardhana mengandung arti bahwa baginda menghidupkan segala agama, melipatgandakan hasil bumi, terutama padi demi kesejahteraan rakyat.
Demikianlah keterangan nama abhiseka Kertarajasa Jayawardhana menurut isi prasasti tahun 1305 yang dikeluarkan secara resmi atas perintah baginda (Wijaya) sendiri.

Selanjutnya dalam Piagam Kudadu menyebutkan pengakuan pribadi bahwa Nararya Sanggramawijaya (Raden Wijaya) sendiri adalah keturunan Singasari, putera Dyah Lembu Tal, cucu Narasingamurti dan menantu raja Kertanegara, oleh karenanya secara resmi rajakula Majapahit yang dikepalainya bernama Rajasa-wangsa seperti yang tercantum pada piagam 1305 tersebut di atas.

Terakhir,  Nagarakretagama (yang merupakan sumber sahih tentang kerajaan Majapahit) didalam pupuh XLVII/3 memberitakan bahwa raja Kertarajasa mangkat pada tahun saka 1231 (1309 M), jenzah beliau ditanam di Antahpura yakni di Istana Majapahit. Di Simping ditegakkan arca Siwa  (Harihara) untuk beliau. Oleh karenanya pengamatan kita sekarang berlanjut ke Candi Simping di Desa Sumberjati, Blitar. Fakta di lapangan yang kita dapati adalah reruntuhan sebuah candi yang bernuansa Hindu dan sama sekali tidak diketemukan jejak-jejak agama Islam di sana. Perhatikan foto-foto atau gambar di bawah ini.

Foto Candi Simping 01


 Foto Candi Simping 02


 Foto Lingga Yoni di Candi Simping yang jelas-jelas menunjukkan lambang Dewa Siwa


Arca Mekala pada Candi Simping


 Arca pendewaan Raden Wjaya yang dikenal dengan Harihara

Dari bukti-bukti atau fakta-fakta sejarah yang masih dapat kita jumpai hingga kini, jelaslah kepada kita semua bahwa Sanggramawijaya atau yang terkenal dengan sebutan Raden Wijaya adalah seorang pemeluk agama Siwa yang taat, terbukti dari mulai senjata yang dimilikinya, Candi makamnya hingga arca perwujudannya semuanya bernuansa Hindu-Siwa.

Oleh karenanya dalam hal ini penulis beranggapan bahwa mereka-mereka yang mengajarkan dan menyebarkan keyakinan bahwa Sanggramawijaya (Raden Wijaya) adalah pemeluk agama Islam, sebenarnya sedang mencari legitimasi keberadaan mereka beserta kelompoknya, legitimasi mana dilakukan secara membabi-buta dengan mengesampingkan fakta-fakta sejarah yang jelas-jelas memiliki dasar baik berupa piagam atau prasasti, maupun berupa kitab-kitab atau kidung-kidung turun-temurun. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa mereka secara jelas, terbuka dan terang-terangan telah mengaburkan fakta-fakta sejarah yang mana perbuatan ini dapat digolongkan kepada tindakan pembohongan publik dan seharusnya memiliki tanggung-jawab dalam hukum pidana.

Selanjutnya dipersilahkan untuk membaca bagian kelima

MAJAPAHIT BUKAN KESULTANAN ISLAM (3)

Fakta ketiga yang dipergunakan oleh Herman Sinung Janutama untuk memperkuat argumennya adalah  :

3. Pada lambang Majapahit yang berupa delapan  sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Kata-kata yang beraksara Arab ini terdapat di antara sinar-sinar matahari yang ada pada lambang Majapahit ini. Untuk lebih mendekatkan pemahaman mengenai lambang Majapahit ini, maka dapat dilihat pada logo Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, atau dapat pula dilihat pada logo yang digunakan Muhammadiyah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Majapahit sesungguhnya adalah Kerajaan Islam atau Kesultanan Islam karena menggunakan logo resmi yang memakai simbol-simbol Islam.

 Gambar Pertama

Pada gambar pertama, seolah-olah huruf arab tersebut merupakan huruf yang benar-benar tercetak pada artefak Surya Majapahit. Menurut saya, huruf Arab yang diberi penekanan pada gambar tersebut tidak lebih merupakan persepsi yang dipaksakan oleh pihak yang menganggap Majapahit merupakan kerajaan Islam. Hal ini tidak dapat diterima begitu saja sebagai bukti bahwa Majapahit merupakan kerajaan Islam.
Sumber sangkalan adalah  tulisan Adang Setiawan

Coba kita bandingkan dengan gambar atau foto Surya Majapahit yang asli berikut ini  :

Gambar kedua

Gambar ketiga

Dengan mata telanjang, dapatlah kita perbandingkan mana lambang yang asli dan mana lambang yang palsu alias buatan pihak-pihak yang berusaha mengaburkan sejarah kerajaan Majapahit. Faktanya lambang kerajaan Majapahit atau yang terkenal dengan sebutan Surya Majapahit ini adalah pengejawantahan sembilan Dewa yang menguasai delapan penjuru mata angin dengan Dewa Siwa di bagian tengahnya. Adapun penjelasan ke delapan Dewa tersebut adalah sebagai berikut :
Dewa Kuwera bertahta di Utara, Isana di Timur Laut. Indra di Timur, Agni di Tenggara, dan Kama/Yama di Selatan. Dewa Surya /Nrtti berkedudukan di Barat Daya, Varuna di Barat, Bayu /Vayu atau Nayu di Barat Laut, dan Siwa di Tengah.

Kepercayaan ini masih terpelihara dengan baik di bumi Bali dengan adanya kepercayaan terhadap dewa-dewa besar dan terkenal dengan sebutan Dewata Nawa Sanga.


Gambar keempat

Lambang kerajaan Majapahit tersebut di atas menunjukkan kepada kita adanya Siwa-Centris yang berkembang pada masa itu, hal ini ditunjang dengan fakta-fakta diketemukannya beberapa Lingga-Yoni yang merupakan lambang Dewa Siwa, seperti gambar di bawah ini.

Gambar kelima

Hal lain yang menunjang adanya Siwa-Centris adalah berupa arca-arca pendewaan raja-raja Majapahit yang mayoritas beroritentasi kepada Siwa, semacam arca Harihara yang merupakan perwujudan raja pertama Majapahit yaitu Bhre Wijaya. Arca ini merupakan sinkretisme antara Siwa dan Budha, perhatikan gambar di bawah ini.

  Gambar keenam

Contoh berikutnya adalah arca Parwati (sakti dewa Siwa) yang merupakan arca perwujudan raja ketiga Majapahit yaitu  Tribhuwanottunggadewi, perhatikan gambar di bawah ini.

 Gambar ketujuh

Selanjutnya dipersilahkan untuk membaca  bagian keempat

MAJAPAHIT BUKAN KESULTANAN ISLAM (2)

Fakta ke dua yang diungkap oleh Herman Sinung Janutama adalah sebagai berikut  :

2. Pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama dalam sistem Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah Qadhi atau hakim agama Islam kerajaan Majapahit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Agama Islam adalah agama resmi yang dianut oleh Majapahit karena memiliki Qadhi yang dalam sebuah kerajaan berperan sebagai hakim agama dan penasehat bidang agama bagi sebuah kesultanan atau kerajaan Islam.
 

Tulisan yang sebenarnya pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim tersebut adalah sebagai berikut  :

Di latar nisan itu tersurat ayat suci Al-Quran: surat Ali Imran 185, Ar-Rahman 26-27, At-Taubah 21-22, dan Ayat Kursi. Ada juga rangkaian kata pujian dalam bahasa Arab bagi Malik Ibrahim: ”Ia guru yang dibanggakan para pejabat, tempat para sultan dan menteri meminta nasihat. Orang yang santun dan murah hati terhadap fakir miskin. Orang yang berbahagia karena mati syahid, tersanjung dalam bidang pemerintahan dan agama.” 

Pada nisan makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim atau Syeikh Maghribi atau Sunan Gresik, terdapat inskripsi yaitu surat al-Baqarah ayat 225 (ayat Kursi), surat Ali Imran ayat 185, surat al-Rahman ayat 26-27, dan surat al-Taubah ayat 21-22 serta tulisan dalam bahasa Arab yang artinya:

Ini adalah makam almarhum seorang yang dapat diharapkan mendapat pengampunan Allah dan yang mengharapkan kepada rahmat Tuhannya Yang Maha Luhur, guru para pangeran dan sebagai tongkat sekalian para Sultan dan Menteri, siraman bagi kaum fakir dan miskin. Yang berbahagia dan syahid penguasa dan urusan agama: Malik Ibrahim yang terkenal dengan kebaikannya (dalam terjemahan lain disebut: terkenal dengan Kakek Bantal-red). Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya dan semoga menempatkannya di surga. Ia wafat pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal 822 Hijriah.

Dari kedua uraian tersebut di atas menunjukkan kepada kita bahwa tidak pernah tertulis dalam batu nisan tersebut suatu pernyataan yang menyatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim adalah Qadhi (hakim agama) di kerajaan Majapahit.
Lebih jauh lagi, Slamet Mulyana dalam bukunya Nagarakretagama dan tafsir sejarahnya, Bhratara Karya Aksara, 1979 pada halaman 189 menyebutkan :
"Semua keputusan dalam pengadilan diambil atas nama raja yang disebut Sang Amawabhumi, artinya : orang yang mempunyai atau menguasai negara. Dalam mukadimah Kutara Manawa ditegaskan demikian : Semoga Sang Amawabhumi teguh hatinya dalam mentrapkan besar kecilnya denda, jangan sampai salah trap, jangan sampai orang yang bertingkah salah luput dari tindakan. Itulah kewajiban Sang Amawabhumi, jika beliau mengharapkan kerahayuan negaranya".
Dalam hal ini jelas kepada kita, bahwa hakim agama (Qadhi) pada masa kerajaan Majapahit disebut dengan istilah Sang Amawabhumi yang tidak lain dan tidak bukan adalah Raja Majapahit yang berkuasa pada saat itu. Hal ini sesuai dengan kitab perundang-undang yang berlaku pada masa itu yang terkenal dengan Kitab Kutaramanawa.
Di dalam paragraf berikutnya Slamet Mulyana menjelaskan hal yang berikut ini :
"Dalam soal pengadilan, raja dibantu oleh dua orang dharmadhyaksa, seorang dharmadhyaksa kasaiwan, seorang dharmadhyaksa kasogatan, yakni kepala agama Siwa dan kepala agama Budha, dengan sebutan DANG ACARYA, karena kedua agama itu merupakan agama utama dalam kerajaan Majapahit dan segala perundang-undangan didasarkan agama. Kedudukan dharmadhyaksa boleh disamakan dengan kedudukan Hakim Tinggi, mereka itu dibantu oleh lima upapatti artinya pembantu; dalam pengadilan adalah pembantu dharmadhyaksa. Mereka itu dalam piagam biasa disebut pamegat atau sang pamegat (disingkat samgat) artinya : sang pemutus alias hakim ..."
Dengan demikian jelaslah bagi kita semua bahwa pada masa kerajaan Majapahit hakim-tinggi atau bisa dikatakan sebagai hakim-agama hanya ada dua yang disebut dengan Dharmadhyaksa Kasaiwan (untuk golongan Siwa) dan Dharmadhyaksa Kasogatan (untuk golongan Budha). Kenyataan ini bukanlah suatu rekayasa sejarah, melainkan ditunjang dengan berbagai prasasti (piagam) yang ditemukan dan berasal dari masa kerajaan Majapahit diantaranya Piagam Kudadu (1294), Piagam Sidateka (1323), Piagam Trawulan (1358) serta piagam-piagam lainnya yang isinya menyebutkan nama hakim-hakim agama tersebut.
Selanjutnya, hakim agama pada masa kerajaan Majapahit diberikan suatu gelar yaitu DANG ACARYA dan bukan gelar Sunan.
Berikut ini adalah daftar hakim-agama pada masa kerajaan Majapahit dari tahun 1293 sampai dengan tahun 1365.


Dengan demikian dalam masa kerajaan Majapahit tidak ada atau belum dikenal istilah Qadhi (hakim agama).

Selanjutnya dipersilahkan untuk membaca bagian ketiga