Tampilkan postingan dengan label Peninggalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peninggalan. Tampilkan semua postingan

Candi Sukuh, tempat suci untuk meruwat diri (1)

BUNGA MAJAPAHIT. Candi Sukuh merupakan tempat suci untuk meruwat diri. Candi Sukuh adalah candi terakhir peninggalan Kerajaan Majapahit. Berada di kaki Gunung Lawu, arsitektur Candi Sukuh tampak berbeda dari candi Majapahit lain. Inilah salah satu tempat suci untuk meruwat diri.

Ruwatan merupakan tradisi ritual Jawa yang usianya sudah sangat lama. Sejak zaman Hindu dan Buddha hingga kini, tradisi ruwatan masih terus dijalankan oleh masyarakat Jawa. Ruwat artinya luwar atau lepas. Ruwatan dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Yang Maha Kuasa dengan mempergunakan prosesi tertentu agar dapat lepas dari segala macam bentuk malapetaka. Malapetaka yang sesungguhnya muncul karena tingkah laku manusia itu sendiri yang tidak pada tempat atau kedudukannya. Masyarakat Jawa memandang perjalanan hidup sebagai cermin diri. Perjalanan itu lalu membawanya pada kesadaran akan keadaan diri yang tidak sempurna.

Upacara ruwat dijalankan sehingga muncul hasrat dalam diri manusia untuk selalu bertobat, pasrah, ingat dan waspada. Ada beragam bentuk kegiatan ruwatan seperti selametan, merti desa, sedekah bumi, sedekah gunung, bancakan, ider bumi, hingga menggelar pertunjukan wayang semalam suntuk.

Di Kompleks Candi Sukuh yang terletak di lereng barat Gunung Lawu juga kerap diadakan ritual untuk ruwatan, terutama saat bulan sura. Kegiatan tersebut diikuti para tokoh budaya, pametri budaya serta masyarakat sekitar lereng Gunung Lawu. Candi Sukuh memang secara khusus dikenal sebagai tempat suci untuk meruwat diri. Ini tergambar dari tanda serta relief-relief yang ada di sana.

Pertama, tanda atau relief pada gapura Paduraksa atau bangunan gapura (pada teras pertama) di muka kompleks Candi Sukuh. Secara arsitektur, gapura ini terlihat seperti pylon, gapura masuk piramida di Mesir. Di lantainya, terdapat relief lingga dan yoni (yang digambarkan dengan alat kelamin laki-laki dan wanita) yang dikelilingi relief rantai melingkar. Lingga merupakan simbol paling sederhana dan kuno dari Siva atau Dewa Siwa (Bhatara Guru). Sementara yoni merupakan simbol sang istri, Parwati (Dewi Uma). Keduanya menandakan kesuburan. Relief sengaja dipahat di lantai gapura masuk agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut dapat terkena suwuk, atau segala kotoran terutama pada hati manusia bisa terlepas. Fungsinya adalah untuk meruwat siapa saja yang memasuki kompleks candi.

Bunga Majapahit
Relief alat kelamin laki-laki dan wanita

Kedua, lima fragmen atau potongan batu berukuran sedang yang berada di pelataran candi induk. Kelima fragmen batu ini melukiskan cerita Sudamala atau Sadewa, salah satu dari ksatria Pandawa.
Diceritakan, Sudamala berhasil meruwat Bathari Durga (perwujudan Dewi Uma istri Bhatara Guru) yang mendapat kutukan dari Bathara Guru karena perselingkuhannya. Bathari Durga yang sebelumnya merupakan sosok raksasa betina, kemudian kembali semula menjadi sosok bidadari khayangan. Bernama Bethari Uma Sudamala, yakni dia yang telah berhasil lepas dari kutukan atau telah berhasil diruwat.

Bunga Majapahit
Relief Sadewo yang berhasil meruwat Bethari Durga

Ketiga, sebuah monumen yang tidak terlalu tinggi, ramping, dengan empat sisi (obelisk). Monumen ini menyiratkan cerita Garudeya. Konon, Garuda memiliki ibu bernama Winata yang menjadi budak akibat kalah bertaruh dengan Dewi Kadru. Dewi Kadru berlaku curang hingga akhirnya membuat Dewi Winata harus menjadi pengasuh anak-anaknya. Merasa memiliki utang budi, dan belas kasih, Garuda hendak membebaskan ibunya dari perbudakan. Beragam upaya Garuda lakukan untuk mendapatkan tirta amerta (air kehidupan) agar bisa dibarter dengan ibu yang dikasihinya. Melihat kesungguhan Garuda, Dewa Wisnu pun memberikannya. Dewi Winata pun diruwat, dan bebas dari perbudakan.

Bunga Majapahit
Relief Garuda yang berhasil menyelamatkan ibunya

Keempat, terdapat fragmen atau relief yang menggambarkan saat-saat Bhatara Guru meruwat Bhatara Kala dengan menuliskan Kala Cakra di keningnya. Ruwatan ini dimaksudkan agar Bhatara Kala tidak sembarangan dalam memangsa manusia. Selanjutnya, hanya mereka-mereka yang masuk dalam kategori tertentu yang boleh dimangsa oleh Bhatara Kala, yaitu  :
  1. Julung caplok, anak yang lahir tepat pada saat matahari terbenam, selain menjadi jatah Bhatara Kala, anak dalam kategori ini juga merupakan cadangan makanan bagi harimau.
  2. Julung kembang, yaitu anak yang lahir tepat pada saat matahari terbit.
  3. Ontang-anting, yaitu anak tunggal baik laki-laki maupun perempuan.
  4. Kendana-kendini, yaitu dua bersaudara laki-laki atau perempuan seayah-seibu.
  5. Uger-uger lawang, yaitu dua bersaudara laki-laki semua seayah-seibu.
  6. Kembang sepasang, yaitu dua bersaudara perempuan semua seayah-seibu.
  7. Pandawa, yaitu lima bersaudara laki-laki semua seayah-seibu.
  8. Pandawi atau Kembang Setaman, yaitu lima bersaudara perempuan semua seayah-seibu.
  9. Pancuran kapit sendang, yaitu tiga bersaudara terdiri dari perempuan - laki-laki - perempuan seayah-seibu.
  10. Sendang kapit pancuran, yaitu tiga bersaudara terdiri dari laki-laki - perempuan - laki-laki seayah-seibu.
  11. Runta, yaitu seorang anak yang hari dan tanggal kelahirannya sama dengan ayahnya.
  12. Empat orang bersaudara putera (laki-laki) semua seayah-seibu.
  13. Empat orang bersaudara puteri (perempuan) semua seayah-seibu.
  14. Lima bersaudara terdiri dari seorang laki-laki dan empat perempuan seayah-seibu.
  15. Lima bersaudara terdiri dari seorang perempuan dan tempat laki-laki seayah-seibu.  

Bunga Majapahit
Bhatara Guru yang berhasil meruwat Bhatara Kala dengan Kala Cakra

Secara umum, Candi Sukuh termasuk candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang berusia muda. Candi yang berdiri di atas ngarai ini juga sering disebut sebagai the last temple karena dibangun saat Kerajaan Majapahit mulai runtuh. Bentuk bangunan candi dibuat dengan konsep punden berundak atau teras bertingkat. Ini memang tidak seperti konsep bangunan candi Majapahit pada umumnya.

Sementara itu, jika kita mengenal konsep bangunan candi Majapahit yang rapi, penataan bangunan yang seimbang baik di sisi kiri maupun kanan, tidak demikian dengan kompleks candi di Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah ini. Kesan yang tampil sangat sederhana bahkan cenderung acak. Ada beberapa argumen seperti, jika kompleks Candi Sukuh dibangun oleh masyarakat desa yang bukan dari kalangan Keraton Majapahit.


(Bersambung ........ ke bagian kedua)

CANDI SUKUH, KUPASAN BEBERAPA RELIEF

BUNGA MAJAPAHIT. Dalam artikel ini akan diulas tentang makna beberapa relief yang terdapat di kompleks Candi Sukuh, Karanganyar, Jawa Tengah.

Bhatara Ismaya dan kembarannya.

Bunga Majapahit
Bhatara Ismaya dan kembaran yang berasal dari jati dirinya (Bagong)

Sang surya beranjak lingsir, cahaya yang keemasan tersaput awan lembayung yang berarak. Senja berganti malam, kahyangan Suralaya kembali diliputi keheningan. Hanya suara-suara satwa kahyangan yang berderik menyatu dengan suara gending lokananta yang terdengar lirih, alunan yang mendayu merdu.

Disaat para dewa dan dewi bercengkrama dalam wisma mereka, saat para batara dan batari ber asyik masyuk di peraduan mereka, nun disalah satu sudut taman kahyangan yang hanya di terangi oleh sinar kunang-kunang yang indah, Hyang Ismaya duduk merenung seorang diri. Sebentar lagi ia akan menjalani tugasnya turun ke marcapada meninggalkan tanah pusaka yang telah melahirkannya, Suralaya. Terlintas dalam pikirannya tentang saudaranya, Hyang Antaga yang telah lebih dulu turun ke marcapada, entah bagaimana nasibnya disana. Saat Hyang Ismaya masih termenung, tiba-tiba seberkas cahaya menjelma dihadapannya. Cahaya itu lamat-lamat berubah menjadi sosok Sang Hyang Tunggal. Sang ayah pun menanyakan perihal yang menjadi lamunan putranya. Ia menanyakan keteguhan hati putranya, apakah sang putra merasa berat hati menjalani tugas yang akan diembannya.

Sang putra merasa ikhlas dengan apa yang telah dihadapinya sebagai ujian, namun dalam nada bersenda gurau ia menyindir keadaan rupanya yang telah tidak lagi rupawan. Wujudnya kini sangat jauh berbeda dengan wujudnya yang terdahulu, buruk rupa dan berkulit hitam legam. Hyang Tunggal menjelaskan bahwa tubuh Hyang Ismaya yang kini berubah hitam mempunyai makna tidak berubah; menyamarkan yang sejatinya, yang bermaksud ‘ada’ itu ‘tidak ada’, sedangkan yang ‘tidak ada’ diterka bukan, dan yang ‘bukan’ diterka ‘ya’. Dengan demikian sebenarnya Hyang Tunggal telah menunjuk Ismaya sebagai putra yang tertua secara sifat diantara kedua saudaranya, Hyang Antaga dan Manikmaya. Dan hitam kulit Ismaya sendiri dilambangkan sebagai misteri, ketidak tahuan mutlak, yaitu ketidak tahuan semua mahluk kepada Sang Penciptanya. Maka, Hyang Ismaya dalam tugasnya nanti di marcapada harus mengganti nama sebagai Semar Badranaya (Semar = Haseming Samar-samar atau Penuntun Hidup) dan Badra (Bebadra = Membangun dari dasar) dan Naya (Nayaka= Utusan).

Hyang Ismaya mengajukan permintaan kepada Sanghyang Tunggal, bahwa di marcapada nanti ia meminta seorang saksi dalam menjalankan tugasnya. Ia tidak menginginkan saksi yang bukan merupakan bagian dari jati dirinya, ia akan mencipta seorang saksi yang berasal dari dirinya sendiri. Kelak di marcapada nanti selain ditemani oleh Petruk dan Gareng, Semar atau Hyang Ismaya menciptakan seorang saksi yang berasal dari bayangannya, dan saksi itu akan diberi nama Bagong (inilah yang dikenal dengan Punakawan).


Bhatara Guru meruwat Bhatara Kala (puteranya).


Bunga Majapahit
Bhatara Guru meruwat Bhatara Kala dengan Kalacakra

Saat itu juga Bhatara Kala diberi pakaian kadewatan dan diperkenankan tinggal di kahyangan Suralaya bersama dewa-dewa lainnya. Dan Sanghyang Jagatnata menyuruh Bhatara Kala untuk dapat membiasakan diri memakan makanan yang layak seperti makanan para dewa lainnya.

Pada kehidupan sehari-harinya Bhatara Kala yang kini tinggal di kahyangan Suralaya merasa bosan dengan kehidupan lingkungan kahyangan. Ia selalu merasa lapar, sebab selain aturan-aturan jatah makan yang ia peroleh juga makanan yang dimakan tidak sesuai dengan seleranya. Akhirnya Bhatara Kala menghadap ayahandanya, Sanghyang Jagatnata untuk mengijinkan dirinya kembali ke marcapada. Ia merasa tidak betah tinggal dilingkungan kahyangan, apalagi para dewa dan dewi tidak ada yang ingin berteman dengannya. Karena merasa kasihan Sanghyang Jagatnata mengijinkan Bhatara Kala untuk kembali ke marcapada. Namun sebelumnya Sanghyang Jagatnata meruwat Bhatara Kala dengan gambar Kalacakra di keningnya. Ia berpesan kepada Bhatara Kala, bahwa siapa saja yang mampu membaca lambang yang ditorehkan di kening Bhatara Kala, maka mereka tidak boleh dibunuh, sebab mereka adalah kerabat para dewa di Suralaya dan merupakan utusan Sanghyang Jagatnata. Kemudian Sanghyang Jagatnata kembali memberi pesan agar Bhatara Kala tidak asal memakan makanan yang ada di marcapada. Adapun kodratnya yang sudah gemar memakan makanan yang bernyawa, hendaknya dibunuh terlebih dahulu sebelum dimakan.

Sanghyang Jagatnata memberikan pusaka Kalanadah kepada Batara Kala untuk membunuh setiap korbannya yang hendak dimakan. Dan aturan-aturan lainnya yang dibuat oleh Sanghyang Jagatnata untuk Bhatara Kala, hal ini dimaksudkan agar kelak Bhatara Kala tidak memusnahkan kehidupan di marcapada. Maka, Sanghyang Jagatnata memberi ijin kepada Bhatara Kala untuk memakan mangsanya dengan syarat adalah mereka yang sudah ditentukan untuk dijadikan mangsa, yaitu :


  • “Julung caplok” yaitu anak yang lahir tepat pada saat matahari terbenam. Selain menjadi jatah Batara Kala, anak “Julung Caplok” juga merupakan cadangan makanan harimau.
  • “Julung kembang” yaitu anak yang lahir tepat pada saat matahari terbit.
  • “Ontang-anting” yaitu anak tunggal puteri atau putera.
  • “Kendana-kendini” yaitu dua bersaudara putera dan puteri seayah-seibu.
  • “Uger-uger lawang” yaitu dua bersaudara putera semua seayah-seibu.
  • “Kembang sepasang” yaitu dua bersaudara puteri semua seayah-seibu.
  • “Pandawa” yaitu lima bersaudara putera semua seibu-seayah.
  • “Pandawi” atau “kembang setaman” yaitu lima bersaudara puteri semua seibu-seayah.
  • “Pancuran kapit sendang” yaitu tiga bersaudara terdiri puteri-putera dan puteri seayah-seibu.
  • “Sendang kapit pancuran” yaitu tiga bersaudara terdiri putera-puteri-putera seayah-seibu.
  • “Runta” yaitu anak yang hari dan tanggal kelahirannya sama dengan ayahnya.
  • Empat orang bersaudara putera semua seayah-seibu.
  • Empat orang bersaudara puteri semua seayah-seibu.
  • Lima bersaudara terdiri seorang putera, empat puteri seayah-seibu.
  • Lima bersaudara terdiri seorang puteri, empat putera seayah-seibu.

  • Begitulah akhirnya Batara Kala dibatasi jatah makannya dan diharuskan membunuh mangsanya terlebih dahulu sebelum ia makan.

    Demikianlah uraian tentang Candi Sukuh, kupasan beberapa relief, semoga bermanfaat dan dapat membawa prespektif baru dalam memaknai apa yang tersirat di Candi Sukuh ini.

    SITUS CANDI MINAK-JINGGO

    Majapahit perlu dijelaskan agar tidak diombang-ambingkan, Majapahit perlu diluruskan agar tidak dibelak-belokkan.

    Tersebutlah situs Candi Minak Jinggo (sebutan masyarakat setempat), terletak di Desa Ungah-unggahan, Trowulan, sebelah Timur kolam Segaran, yang saat ini hanya tinggal reruntuhan candi yang terbuat dari bahan batu andesit, sebuah bahan bangunan candi yang tidak lazim dipergunakan pada candi-candi di kawasan Trowulan, yang sebagian besar mempergunakan bahan dasar batu bata merah. 

    Dari lokasi reruntuhan candi ini telah ditemukan sebuah arca Garudha, namun oleh masyarakat setempat dan berita-berita tradisi disebutkan sebagai arca Menak-Jinggo. Ditilik dari motif dan model ragam hias pada relief-relief candi yang masih tersisa, terlihat jelas bahwa candi tersebut adalah peninggalan kerajaan Majapahit.


    SITUS KOLAM SEGARAN

    Kolam Segaran terletak di Dukuh Trowulan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Dari perempatan jalan raya Mojokerto-Jombang terdapat jalan simpang ke arah selatan. Letak kolam di sisi kiri jalan simpang tersebut, sekitar 500 meter dari jalan raya.

    Kolam Segaran ditemukan pada tahun 1926, dalam keadaan teruruk tanah. Pada tahun 1966 kolam ini mengalami pemugaran sekedarnya. Baru pada tahun 1974 dimulai pelaksanaan pemugaran yang lebih terencana dan menyeluruh, yang memakan waktu sepuluh tahun. Fungsi Kolam Segaran belum diketahui secara pasti, tetapi menurut masyarakat di sekitarnya, kolam tersebut digunakan keluarga Kerajaan Majapahit untuk berekreasi dan menjamu tamu dari luar negeri. Kolam ini merupakan satu-satunya bangunan kolam kuno terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia. Kolam yang luas keseluruhannya kurang lebih 6,5 hektar, membujur ke arah utara-selatan sepanjang 375 m dengan lebar 175 m. Sekeliling tepi kolam dilapisi dinding setebal 1,60 m dengan kedalaman 2,88 m.

    Di pintu masuk yang terletak di sebelah barat, terdapat emperan yang menjorok ke tengah kolam. Di sisi dalam emperan terdapat undakan untuk turun ke kolam. Seluruh dinding dan emperan terbuat dari susunan batu bata tanpa bahan perekat. Konon untuk merekatkannya, batu bata yang berdampingan digosokkan satu sama lain.

    Di sisi tenggara terdapat saluran yang merupakan jalan masuk air ke dalam kolam, sedangkan di sisi barat laut terdapat saluran jalan keluar air. Air yang keluar mengalir ke Balongdawa (empang panjang) yang letaknya di barat laut dan Balongbunder (empang bundar) di selatan. Menilik adanya saluran masuk dan keluar air, diduga Kolam Segaran dahulunya juga berfungsi sebagai waduk dan penampung air. Para ahli memperkirakan bahwa kolam ini adalah yang disebut sebagai telaga dalam Kitab Negarakertagama.


    SITUS CANDI WRINGIN-LAWANG

    Gapura Wringin Lawang merupakan bangunan kuno peninggal jaman Majapahit yang berbentuk Gapura Belah  tidak memiliki atap (tipe candi bentar). Gapura ini diperkirakan sebagai pintu gerbang masuk salah satu kompleks bangunan yang berada di kota Mojopahit. Lokasinya berada di dukuh Wringin Lawang, Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, sekitar 200 meter dari jalan raya Mojokerto-Jombang.
     

    Foto di atas menunjukkan keadaan candi sebelum mengalami restorasi, dan masih terlihat dua pohon beringin di sisi kiri dan kanannya.

    Nama Wringin Lawang diambil dari fakta yang ada di temuan awal. Dulu, gapura yang dibuat dari batu bata merah ini diapit oleh pohon beringin di sisi kiri dan kanan. Bangunan ini menghadap ke arah timur dan barat, berukuran 13 X 11,5 meter dan tinggi 15,5 meter. Berbeda dengan Candi Bajangratu yang bergaya paduraksa, Wringin Lawang bergaya candi bentar. Jika dilihat dari jauh, orang langsung bisa menebak, Wringin Lawang adalah gerbang keluar masuk dari suatu tempat ke tempat lain. Konon, gapura ini merupakan pintu masuk tamu-tamu kerajaan yang ingin bertandang ke istana. Tetapi berdasarkan pengamatan peta kota raja Majapahit serta penuturan Kitab Negarakertagama, sepertinya bangunan ini merupakan pintu masuk ke kediaman Maha Patih Gajah Mada.

    Di bawah ini adalah gambar candi Wringin Lawang setelah direstorasi.



    SITUS CANDI BRAHU

    Candi Brahu terletak di kawasan Dukuh Jambumente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, sekitar 2 km dari jalan raya Mojokerto - Jombang. Candi ini berbahan dasar batu-bata merah, dibangun menghadap ke arah Barat dengan dimensi ukuran panjang 22,5 m, lebar 18 m dan tinggi sekitar 20 m. Bangunan ini jelas-jelas bercirikan bangunan suci agama Budha, dan saat dilakukan penggalian ditemukan alat-alat upacara keagamaan, patung-patung yang bercirikan agama Budha serta perhiasan-perhiasan dari emas.

    Mengutip buku Mengenal Peninggalan Majapahit di Daerah Trowulan oleh Drs IG Bagus Arnawa, dulu di sekitar candi ini banyak terdapat candi candi kecil yang sebagian sudah runtuh, seperti Candi Muteran, Candi Gedung, Candi Tengah, dan Candi Gentong (sekarang masih dapat dilihat bekas-bekas reruntuhannya.

    Di dekat Candi Brahu ini, pada jarak sekitar 45 m arah Barat Daya, telah ditemukan sebuah prasasti kuno yang terkenal dengan nama Prasasti Alasantan, berangka tahun 861 Saka, atau tepatnya 9 September 939 M, yang diantara isinya menyebutkan sebuah bangunan suci Waharu atau Warahu. Intisari isi dari prasati tersebut adalah : ' .. bahwa pada tanggal 6 September 939 M, Sri Maharaja Rakai Halu Dyah Sindok Sri Isanawikrama memerintahkan agar tanah di Alasantan dijadikan sima milik Rakryan Kabayan .... '. Pada lempengan III.9-12 prasasti ini menyebutkan para rama dari desa-desa di sekitar Alasantan yang hadir sebagai saksi pada peresmiannya menjadi sima, berturut-turut disebutkan: rama ryy alasantan, rama ri lmah tulis, rama i skarbila, rama i lbuh runting, rama i Padanga, rama i tirim panda, rama ing lapan rupa dan rama i wulu taj (Wibowo,A.S.1979: 15). Kesimpulannya, daerah sekitar Candi Brahu ini telah ada jauh sebelum Majapahit berdiri, yaitu masih di jaman Mataram Hindu (pindahan dari Jawa Tengah) di bawah pemerintahan Raja Sindok, dan dahulunya bernama Alasantan.

    Kitab Negarakertagama ada sedikit menyinggung tentang Candi Brahu ini, yaitu tepatnya pada Pupuh VIII bagian ke-empat yang berbunyi "... bertegak di halaman sebelah Barat, di Utara tempat Buda bersusun tiga, puncaknya penuh berukir, berhamburan bunga waktu raja turun berkorban."
    Pada kenyataannya bangunan Candi Brahu ini terdiri dari tiga bagian, yaitu kaki candi dibangun bersusun dua tingkat, kaki bagian bawah setinggi 2 m dan memiliki tangga naik di sisi sebelah Barat. Selasar ke dua memiliki lebar 1 m mengelilingi tubuh candi. Bagian yang ke tiga adalah  tubuh candi, yang dalam hal ini terdapat sebuah pintu di ketinggian sekitar 2 m dari selasar yang kedua, menghadap arah Barat, terdapat ruangan yang cukup luas di dalamnya. Waktu  itu kami (penulis) ber-empat sempat menaiki sekaligus memasuki ruangan di tubuh candi tersebut (untuk melakukan ritual), dan kami perkirakan ruangan dalam tubuh Candi Brahu ini cukup untuk menampung sekitar 30 orang.

    Di dalam peta lokasi pemetaan kota raja yang dibuat oleh H Maclaine Pont juga terlihat posisi Candi Brahu ini pada arah Utara-Barat. Perhatikan gambar di bawah ini.
    Peta galian Mc Laine Pont
     

    SITUS CANDI GAYATRI / BAYALANGU

    Majapahit penuh misteri, Majapahit menampilkan berjuta budaya asli, Majapahit perlu diluruskan dari berbagai macam penyesatan yang ada.
     
    Tersebutlah Candi Gayatri adalah reruntuhan candi Hindu-Budha yang berada di dusun Boyolangu, kalurahan Boyolangu, kecamatan Boyolangu, kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Pada bagian tangga batu candi ini terdapat tulisan angka 1289 Ç (1367 M) dan 1291 Çaka (1369 M), yang kemungkinan dipakai untuk menandai tahun pembuatan dari Candi Gayatri, yaitu pada zaman kerajaan Majapahit.

    Di dalam kawasan candi ini terdapat satu candi induk dan dua candi perwara di sebelah selatan dan utaranya. Candi induk berukuran 11,40 m x 11,40 m, mempunyai arca Gayatri (arca wanita dari ratu Sri Rajapatni, nenek dari raja Hayam Wuruk)) dengan panjang 1,1 m, lebar 1 m dan tinggi 1,2 m. Pada candi perwara di sebelah selatan terdapat arca Nandi, arca Dwarapala dan arca Mahisasura Nandini. Pada candi perwara di sebelah utara terdapat dua patung yoni yang disangga oleh kepala naga, arca Ganesa dan sebuah patung Jaladwara.

    Kitab Negarakertagama di dalam pupuh II/1 menguraikan bahwa Puteri Gayatri alias Rajapatni pada usia lanjut menjadi wikuni/bhiksuni dan mangkat pada tahun 1350 M. Negarakertagama pupuh LXIII - LXIX menguraikan upacara pesta Sraddha pada tahun 1362 M sebagai peringatan dua belas tahun mangkatnya Rajapatni (Isteri Bhre Wijaya/pendiri Majapahit, yang juga ibu Tribhuwanottunggadewi). Negarakertagama pupuh XIX/1 memberitakan bahwa jenazah puteri Rajapatni dicandikan di Kamal Pandak, candi makamnya di Bayalangu yang dibangun pada tahun 1362 M disebut Prajnyaparamita puri. Baik tanah candi maupun arcanya diberkahi oleh pendeta Jnyanawidi. Prasasti Penanggungan 1296 M serta prasasti Kertarajasa 1305 M, memuji-muji kecantikan puteri Gayatri (puteri bungsu raja Kertanegara), dan oleh karenanya paling dikasihi oleh raja Kertarajasa (raja Majapahit pertama). 

    Atas petunjuk-petunjuk di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa mungkin sekali arca Dewi Prajnyaparamita adalah merupakan arca puteri Gayatri (Rajapatni) yang dahulunya di letakkan di Candi Prajnyaparamita Puri di Bayalangu (Tulungagung). 

    Prajnyaparamita adalah merupakan salah satu aspek seorang 'bodhisatwa' yang disebut paramita. Arti harafiahnya adalah : 'kesempurnaan dalam kebijaksanaan' yang merupakan salah satu dari enam atau sepuluh sifat transendental manusia. Istilah Dewi Pradjnyaparamita merujuk kepada personifikasi atau perwujudan konsep kebijaksanaan sempurna, yakni dewi kebijaksanaan transendental dalam aliran Budha Mahayana.

    Foto berikut adalah yoni Nagaraja yang berada di kawasan situs candi Gayatri atau candi Bayalangu.



    SITUS CANDI SIMPING (SUMBERJATI)

    Majapahit menyimpan misteri, Majapahit mengandung sejuta rahasia, Majapahit memunculkan kontroversi, Majapahit melahirkan banyak penyesatan, Majapahit menuntut sikap teliti dan hati-hatian.

    Tersebutlah Candi Simping atau Candi Sumberjati, yang terletak di Desa Sumberjati, di daerah Blitar, Jawa Timur. Kitab Negarakertagama di dalam pupuh XLVII/3 menjelaskan tentang candi ini demikian : ".. Tahun Saka mengitari tiga bulan (1231 S), Sang Prabu (Nararya Sanggramawijaya / Kertarajasa Jayawarddhana) mangkat, ditanam di dalam pura Antahpura, begitu nama makam beliau, dan di makam Simping ditegakkan arca Siwa".

    Apa yang diistilahkan sebagai arca Siwa oleh penggubah Negarakertagama (Prapanca) kiranya dapat diperbaiki sebagai arca Harihara, suatu sinkretisme antara Hindu dan Budha, sebagai keyakinan yang dianut oleh Sanggramawijaya sendiri.

    Kitab Negarakertagama dalam pupuh LXI/4 menceritakan upaya perbaikan yang dilakukan oleh Prabhu Hayam Wuruk terhadap kerusakan-kerusakan yang terjadi pada candi Simping ini demikian : " ...Meninggalkan Lodaya menuju desa Simping, ingin memperbaiki candi makam leluhur, menaranya rusak, dilihat miring ke Barat, perlu ditegakkan kembali agak ke Timur". Sementara itu di dalam pupuh LXII/1 diceritakan hal yang demikian : " ...Perbaikan disesuaikan dengan bunyi prasasti yang dibaca lagi, diukur panjang lebarnya ; di sebelah Timur sudah ada tugu, asrama Gurung-gurung diambil sebagai denah candi makam, untuk gantinya diberikan Ginting, Wisnurare di Bajradara".

    Dari uraian kedua pupuh tersebut dapatlah kita ketahui bahwa candi Simping ini pernah mengalami perbaikan atau pemugaran pada jaman pemerintahan Prabhu Hayam Wuruk dengan mengambil denah asrama Gurung-gurung sebagai denah candi makam artinya asrama Gurung-gurung dipergunakan sebagai acuan dalam melaksanakan upaya pemugaran candi Simping ini. Satu hal yang terpenting untuk kita cermati adalah bahwa candi Simping atau candi Sumberjati ini adalah candi makam Kertarajasa Jayawardhana (Nararya Sanggramawijaya), pendiri sekaligus raja pertama kerajaan Majapahit.

    Foto-foto di bawah ini memperlihatkan reruntuhan candi Simping berikut beberapa relief-relief serta peninggalan berupa yoni bergambar bulus.




    Artikel tentang Candi Makam di jaman Majapahit, dapat anda baca di sini.