Candi Sukuh, tempat suci untuk meruwat diri (1)

BUNGA MAJAPAHIT. Candi Sukuh merupakan tempat suci untuk meruwat diri. Candi Sukuh adalah candi terakhir peninggalan Kerajaan Majapahit. Berada di kaki Gunung Lawu, arsitektur Candi Sukuh tampak berbeda dari candi Majapahit lain. Inilah salah satu tempat suci untuk meruwat diri.

Ruwatan merupakan tradisi ritual Jawa yang usianya sudah sangat lama. Sejak zaman Hindu dan Buddha hingga kini, tradisi ruwatan masih terus dijalankan oleh masyarakat Jawa. Ruwat artinya luwar atau lepas. Ruwatan dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Yang Maha Kuasa dengan mempergunakan prosesi tertentu agar dapat lepas dari segala macam bentuk malapetaka. Malapetaka yang sesungguhnya muncul karena tingkah laku manusia itu sendiri yang tidak pada tempat atau kedudukannya. Masyarakat Jawa memandang perjalanan hidup sebagai cermin diri. Perjalanan itu lalu membawanya pada kesadaran akan keadaan diri yang tidak sempurna.

Upacara ruwat dijalankan sehingga muncul hasrat dalam diri manusia untuk selalu bertobat, pasrah, ingat dan waspada. Ada beragam bentuk kegiatan ruwatan seperti selametan, merti desa, sedekah bumi, sedekah gunung, bancakan, ider bumi, hingga menggelar pertunjukan wayang semalam suntuk.

Di Kompleks Candi Sukuh yang terletak di lereng barat Gunung Lawu juga kerap diadakan ritual untuk ruwatan, terutama saat bulan sura. Kegiatan tersebut diikuti para tokoh budaya, pametri budaya serta masyarakat sekitar lereng Gunung Lawu. Candi Sukuh memang secara khusus dikenal sebagai tempat suci untuk meruwat diri. Ini tergambar dari tanda serta relief-relief yang ada di sana.

Pertama, tanda atau relief pada gapura Paduraksa atau bangunan gapura (pada teras pertama) di muka kompleks Candi Sukuh. Secara arsitektur, gapura ini terlihat seperti pylon, gapura masuk piramida di Mesir. Di lantainya, terdapat relief lingga dan yoni (yang digambarkan dengan alat kelamin laki-laki dan wanita) yang dikelilingi relief rantai melingkar. Lingga merupakan simbol paling sederhana dan kuno dari Siva atau Dewa Siwa (Bhatara Guru). Sementara yoni merupakan simbol sang istri, Parwati (Dewi Uma). Keduanya menandakan kesuburan. Relief sengaja dipahat di lantai gapura masuk agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut dapat terkena suwuk, atau segala kotoran terutama pada hati manusia bisa terlepas. Fungsinya adalah untuk meruwat siapa saja yang memasuki kompleks candi.

Bunga Majapahit
Relief alat kelamin laki-laki dan wanita

Kedua, lima fragmen atau potongan batu berukuran sedang yang berada di pelataran candi induk. Kelima fragmen batu ini melukiskan cerita Sudamala atau Sadewa, salah satu dari ksatria Pandawa.
Diceritakan, Sudamala berhasil meruwat Bathari Durga (perwujudan Dewi Uma istri Bhatara Guru) yang mendapat kutukan dari Bathara Guru karena perselingkuhannya. Bathari Durga yang sebelumnya merupakan sosok raksasa betina, kemudian kembali semula menjadi sosok bidadari khayangan. Bernama Bethari Uma Sudamala, yakni dia yang telah berhasil lepas dari kutukan atau telah berhasil diruwat.

Bunga Majapahit
Relief Sadewo yang berhasil meruwat Bethari Durga

Ketiga, sebuah monumen yang tidak terlalu tinggi, ramping, dengan empat sisi (obelisk). Monumen ini menyiratkan cerita Garudeya. Konon, Garuda memiliki ibu bernama Winata yang menjadi budak akibat kalah bertaruh dengan Dewi Kadru. Dewi Kadru berlaku curang hingga akhirnya membuat Dewi Winata harus menjadi pengasuh anak-anaknya. Merasa memiliki utang budi, dan belas kasih, Garuda hendak membebaskan ibunya dari perbudakan. Beragam upaya Garuda lakukan untuk mendapatkan tirta amerta (air kehidupan) agar bisa dibarter dengan ibu yang dikasihinya. Melihat kesungguhan Garuda, Dewa Wisnu pun memberikannya. Dewi Winata pun diruwat, dan bebas dari perbudakan.

Bunga Majapahit
Relief Garuda yang berhasil menyelamatkan ibunya

Keempat, terdapat fragmen atau relief yang menggambarkan saat-saat Bhatara Guru meruwat Bhatara Kala dengan menuliskan Kala Cakra di keningnya. Ruwatan ini dimaksudkan agar Bhatara Kala tidak sembarangan dalam memangsa manusia. Selanjutnya, hanya mereka-mereka yang masuk dalam kategori tertentu yang boleh dimangsa oleh Bhatara Kala, yaitu  :
  1. Julung caplok, anak yang lahir tepat pada saat matahari terbenam, selain menjadi jatah Bhatara Kala, anak dalam kategori ini juga merupakan cadangan makanan bagi harimau.
  2. Julung kembang, yaitu anak yang lahir tepat pada saat matahari terbit.
  3. Ontang-anting, yaitu anak tunggal baik laki-laki maupun perempuan.
  4. Kendana-kendini, yaitu dua bersaudara laki-laki atau perempuan seayah-seibu.
  5. Uger-uger lawang, yaitu dua bersaudara laki-laki semua seayah-seibu.
  6. Kembang sepasang, yaitu dua bersaudara perempuan semua seayah-seibu.
  7. Pandawa, yaitu lima bersaudara laki-laki semua seayah-seibu.
  8. Pandawi atau Kembang Setaman, yaitu lima bersaudara perempuan semua seayah-seibu.
  9. Pancuran kapit sendang, yaitu tiga bersaudara terdiri dari perempuan - laki-laki - perempuan seayah-seibu.
  10. Sendang kapit pancuran, yaitu tiga bersaudara terdiri dari laki-laki - perempuan - laki-laki seayah-seibu.
  11. Runta, yaitu seorang anak yang hari dan tanggal kelahirannya sama dengan ayahnya.
  12. Empat orang bersaudara putera (laki-laki) semua seayah-seibu.
  13. Empat orang bersaudara puteri (perempuan) semua seayah-seibu.
  14. Lima bersaudara terdiri dari seorang laki-laki dan empat perempuan seayah-seibu.
  15. Lima bersaudara terdiri dari seorang perempuan dan tempat laki-laki seayah-seibu.  

Bunga Majapahit
Bhatara Guru yang berhasil meruwat Bhatara Kala dengan Kala Cakra

Secara umum, Candi Sukuh termasuk candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang berusia muda. Candi yang berdiri di atas ngarai ini juga sering disebut sebagai the last temple karena dibangun saat Kerajaan Majapahit mulai runtuh. Bentuk bangunan candi dibuat dengan konsep punden berundak atau teras bertingkat. Ini memang tidak seperti konsep bangunan candi Majapahit pada umumnya.

Sementara itu, jika kita mengenal konsep bangunan candi Majapahit yang rapi, penataan bangunan yang seimbang baik di sisi kiri maupun kanan, tidak demikian dengan kompleks candi di Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah ini. Kesan yang tampil sangat sederhana bahkan cenderung acak. Ada beberapa argumen seperti, jika kompleks Candi Sukuh dibangun oleh masyarakat desa yang bukan dari kalangan Keraton Majapahit.


(Bersambung ........ ke bagian kedua)

Candi Sukuh, tempat suci untuk meruwat diri (1) 9 Out Of 10 Based On 10 Ratings. 9 User Reviews.
Share 'Candi Sukuh, tempat suci untuk meruwat diri (1)' On ...

Ditulis oleh: Bunga Majapahit - Selasa, 10 Desember 2013

Belum ada komentar untuk "Candi Sukuh, tempat suci untuk meruwat diri (1)"

Posting Komentar

Tuliskan komentar anda yang sesuai dengan isi artikel di atas demi persahabatan sesama anak bangsa, namun jangan sekali-kali melakukan spam atau menempatkan link aktif pada komentar anda. Terima kasih.