CATURASRAMA

Negarakertagama dalam pupuh LXXXI menyebutkan caturasrama yakni empat taraf kehidupan bagi tiga golongan warna, setelah menerima pelantikan sebagai anggota masyarakat. Pada hakekatnya caturasrama lebih banyak membayangkan kehidupan yang ideal daripada kenyataan hidup dalam masyarakat, karena hanya sebagian kecil saja dari anggota masyarakat yang pernah memenuhi seruan itu ; dimaksudkan sebagai usaha untuk menyatukan pengajian weda, kehidupan dalam keluarga dan kehidupan sebagai pendeta. Sepanjang sejarah Jawa Timur hanya raja Airlangga dari Kahuripan dan Wikramawardhana dari Majapahit yang pernah memenuhi caturasrama ini.


Kehidupan taraf pertama disebut kehidupan brahmacarin, yakni kehidupan sebagai siswa atau murid, mulai saat pengalungan upavita sebagai tanda penerimaan dalam masyarakat. Inilah masa berguru pada pendeta yang harus mengajarnya disiplin (Vrata) berupa upacara membersihkan diri, pemujaan, kebaktian dan pengetahuan tentang weda. Selama masa itu setiap hari harus menyajikan minyak untuk korban api, mengemis untuk makannya, tidur di atas tanah dan melakukan segala perintah sang guru. Jika telah dianggap cukup, lalu menjalani upacara samavartana sebagai tanda bahwa ia diijinkan pulang untuk menempuh taraf kedua, yang disebut grehasta.

Kehidupan taraf kedua adalah kehidupan sebagai pemimpin rumah tangga, ini berarti setelah sekedar mengetahui tentang kewajiban-kewajiban keagamaan yang berupa persajian, pemujaan dan pengetahuan tentang weda, dianggap telah datang waktunya untuk kawin dan mendirikan rumah tangga. Kedudukan pemimpin keluarga dipuja terlalu tinggi, karena pada hakekatnya ia menjadi sandaran tiga taraf kehidupan lainnya.

Kehidupan taraf ketiga disebut vanaprastha yakni kenidupan sebagai pendeta di tengah hutan. Bila kehidupan itu mulai, diuraikan dalam undang-undang Manawa seperti berikut : "Jika sulit sudah mulai berkerut, rambut beruban dan anaknya sudah beranak, itulah masanya seorang bapa meninggalkan rumahnya untuk masuk ke dalam hutan sendirian atau bersama dengan isterinya, tanpa membawa apa-apa kecuali api suci dan bahan-bahan persajian. Di tengah hutan menyingkiri segala kesenangan, tidur di atas tanah, di bawah pohon menyiksa diri".

Kehidupan taraf keempat disebut kehidupan sannyasin, yakni kehidupan pendeta pengembara. Dalam taraf ini setiap hari kerjanya hanya memuja dan bersamadi, mengutip weda untuk dapat melepaskan diri dari segala keduniaan dan memusatkan perhatiannya kepada Brahman saja, karena sebagai tujuan terakhir ia ingin bersatu dengan Brahman. Kehidupannya diuraikan dalam undang-undang manawa seperti berikut ini : "Ia meninggalkan rumah hanya membawa alat penyucian, mengembara tanpa suara, menghindari segala kesukaan yang tersedia. Berjalan sendirian tanpa kawan untuk mencari kebebasan, dengan penuh kepercayaan bahwa dengan menempuh kesepian dan menjalani kewajiban pasti akan mencapai tujuannya. Meninggalkan api dan rumah, menyusur desa minta sedekah, menyingkiri keduniaan, hanya memusatkan pikirannya kepada Brahman. Tidak mengharapkan mati, tetapi juga tidak mengharapkan terus hidup, hanya menunggu datangnya saat laksana hamba menunggu upah yang akan diterimanya.


CATURASRAMA 9 Out Of 10 Based On 10 Ratings. 9 User Reviews.
Share 'CATURASRAMA' On ...

Ditulis oleh: Bunga Majapahit - Kamis, 12 Mei 2011

Belum ada komentar untuk "CATURASRAMA"

Posting Komentar

Tuliskan komentar anda yang sesuai dengan isi artikel di atas demi persahabatan sesama anak bangsa, namun jangan sekali-kali melakukan spam atau menempatkan link aktif pada komentar anda. Terima kasih.